SUPLEMEN II

ETIKA DI MASJID

Ketika hendak ke masjid dan sedang berada di masjid, hendaknya setiap muslim memperhatikan etika sebagai berikut: Baca selebihnya »

SUPLEMEN I

TATA CARA MANDI JUNUB

SESUAI CONTOH RASULULLAH

Berikut ini tata cara mandi junub (wajib) yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘’alaihi wa Sallam.

1. Berniat dalam hati

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:”Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan seseorang akan dibalas sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Jadi, jika untuk shalat Jum’at, mandi yang dilaksanakan diniatkan untuk mandi Jum’at. Baca selebihnya »

PENUTUP

Demikianlah uraian singkat tentang keistimewaan hari Jum’at dan amal ibadah yang disyari’at untuk dilakukan di hari Jum’at. Semoga dengan membaca penjelasan yang ada dalam buku ini membuat kita lebih termotivasi untuk bersegera melakukan berbagai amal ibadah di hari Jum’at. Dengan harapan, mudah-mudahan kita akan menjadi orang yang kaya dan panjang umur setelah Jum’atan. Amien.

“Ya Allah, ampunilah dosa hamba,

dan dosa kedua orang tua hamba. Sayangilah mereka berdua

sebagaimana mereka berdua telah menyayangi hamba

di waktu kecil”

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarga dan para Sahabatnya secara keseluruhan, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat kelak.

Dan, penutup do’a kami adalah:”Alhamdulillahi Robbil ’aalamin (Segala puji hanyalah milik Allah, Rabb semesta alam)”.

BAB 5. KAYA DAN PANJANG UMUR SETELAH JUM’ATAN

“Bukanlah kaya itu karena banyaknya harta, kata Rasulullah, akan tetapi kaya itu adalah kekayaan jiwa”

(HR. Bukhari dan Muslim)

˜ooo™

Kaya Setelah Jum’atan

Setelah melakukan berbagai macam amal ibadah yang disunnahkan Rasulullah untuk dikerjakan di hari Jum’at serta amal ibadah lainnya (yang bersifat umum), maka insya Allah kita akan menjadi orang yang kaya raya. Tentunya ”kaya” yang dimaksud di sini adalah kaya dalam hal pahala. Namun, kita pun seolah-olah telah menjadi orang yang kaya harta oleh sebab amal ibadah yang telah kita lakukan di hari Jum’at. Baca selebihnya »

BAB 4. SHALAT JUM’AT

“Hai orang – orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

(QS. al-Jumu’ah: 9)

˜ooo™

Hukum Shalat Jum’at

Shalat Jum’at merupakan perkara yang wajib bagi setiap laki-laki, mukallaf, muslim dan menetap pada suatu daerah.

Shalat Jum’at tidak wajib bagi musafir yang melakukan perjalanan sejauh jarak yang membuatnya boleh meng-qoshor sholat. Juga tidak wajib bagi budak dan wanita. Jika seorang budak atau wanita menghadirinya maka itu mencukupi mereka (hukumnya sah dan mereka tidak perlu lagi melakukan shalat zhuhur).Kewajiban shalat jum’at juga gugur bagi mereka yang memiliki udzur seperti sakit dan ketakutan.

Wanita dan Shalat Jum’at

Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa wanita tidak wajib shalat Jum’at. Walaupun diperbolehkan, namun shalat di rumah lebih baik dan lebih banyak pahalanya bagi mereka. Sebagaimana terdapat dalam hadits shahih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ تَمْنَعُوْا نِسَاءَكُمُ الْمَسْجِدَ وَ بُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian shalat di masjid. Sedangkan shalat mereka di dalam rumah adalah lebih baik.” (HR. Abu Dawud)

Besarnya pahala shalat di rumah merupakan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kaum wanita sekaligus bagi masyarakat. Tujuannya tentu saja ialah untuk menghindari fitnah (kerusakan), lebih menjaga wanita, dan lebih melindunginya. Selain itu, juga untuk menjaga anak-anak di rumah, para lanjut usia, serta manfaat lainnya. Maha Suci Allah yang telah menurunkan syari’at yang penuh hikmah ini!

Untuk hal ini, cukuplah bagi para wanita untuk mencontoh para wanita shalihah di zaman Rasulullah dahulu. Baca selebihnya »

BAB 3. MERAIH PAHALA BERLIMPAH

Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengagungkan, mengistimewakan, serta memuliakan hari Jum’at dibanding hari lainnya dengan berbagai macam ibadah.

(Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad [I / 385])

˜ooo™

Agar kita dapat memperoleh pahala berlimpah pada hari Jum’at, hendaknya kita melakukan berbagai macam ibadah di hari itu. Berikut ini ibadah-ibadah yang dianjurkan dan dicontohkan oleh Rasulullah untuk dilakukan di hari Jum’at:

1. Dianjurkan bagi imam membaca surat as-Sajdah dan al-Insan secara keseluruhan pada shalat subuh di hari Jum’at.

Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam biasa membaca pada Subuh di hari Jum’at “alif lam mim tanzil”, yaitu surat As-Sajdah, dan “hal ata ‘alal insan” (surat Al-Insan)”. (Muttafaq ‘alaih)

2. Dianjurkan juga memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari tersebut.

Berdasarkan hadits Aus bin Aus radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ قُبِضَ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ، فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ {رواه أحمد وأصحاب السنن وصححه النووي وحسنه المنذري}

“Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, dan pada hari itu manusia dimatikan, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari tersebut, karena sesungguhnya shalawat kalian disampaikan kepadaku.” (HR. Ahmad serta para penyusun kitab Sunan, dishahihkan oleh Imam Nawawi, dan dihasankan oleh al-Mundziri)

3. Membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at

Dengan dasar hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ {رواه الحاكم و البيهقي وصححه الألباني}

“Barang siapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan bersinar baginya cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. Hakim dan Baihaqi. Al-Albani menshahihkannya)

4. Memperbanyak doa pada hari Jum’at, mudah-mudahan bertepatan dengan saat yang mustajab.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إَنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ الله َشَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ – وَقَالَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا {متفق عليه}

“Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat-saat yang tidaklah seorang hamba muslim tepat menemuinya dalam kondisi berdiri menunaikan shalat dan meminta sesuatu kepada Alloh melainkan Alloh akan kabulkan permintaannya” —Beliau berisyarat dengan jarinya bahwa waktu tersebut sangat singkat. (Muttafaq ‘Alaihi)

5. Memperbanyak sedekah

Sedekah memiliki keutamaan yang sangat besar dan banyak, diantaranya Rasulullah bersabda:

“Sedekah dapat menghapuskan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi [2616]; beliau berkata,” Hadits ini hasan shahih”)

Namun, sedekah pada hari Jum’at pahalanya jauh lebih besar dibandingkan bersedekah pada hari-hari yang lain. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Shadaqah pada hari Jum’at jika dibandingkan dengan hari-hari lain seperti shadaqah pada bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lain.

Akan tetapi perlu diingat, bahwa sedekah tidak hanya berupa uang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya tiap-tiap tasbih (ucapan: subhanallah) adalah sedekah, tiap-tiap tahmid (ucapan: alhamdulillah) adalah sedekah, tiap-tiap tahlil (ucapan: laailaaha illallah) adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, melarang daripada kemunkaran adalah sedekah, dan berhubungan badan dengan istri adalah sedekah.” (HR. Muslim)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:

“Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari)

Di antara bentuk kebaikan yang mudah untuk kita lakukan adalah dengan senantiasa berwajah ceria (murah senyum) kepada saudara kita sesama Muslim.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Janganlah sekali-kali kamu meremehkan sedikitpun dari kebaikan-kebaikan, meskipun hanya kamu berjumpa saudaramu dengan muka manis.” (HR. Muslim)

Rasulullah juga bersabda:

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. At-Tirmidzi)

6. Melaksanakan shalat Jum’at beserta adab-adabnya.

Akan disebutkan sebentar lagi tentang beberapa adab yang disunnahkan untuk dilakukan oleh orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at.

BAB 2: ADA APA DENGAN HARI JUM’AT

Hari Jum’at merupakan hari ibadah. Kedudukannya dibanding hari-hari yang lain seperti bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Saat terkabulnya do’a pada hari itu seperti malam Lailaul Qodar di bulan ramadhan.

(Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad [I / 398])

˜ooo™

Mengenal Hari Jum’at

Berdasarkan penjelasan pakar bahasa Arab, jim, mim dan ‘ain adalah satu asal yang menunjukkan berhimpunnya sesuatu. Sehingga hari Jum’at dinamakan demikian, karena manusia berkumpul di dalamnya pada hari itu.

Sedangkan secara istilah, Jumu’ah –dengan jim dan mim di-dhamah dan boleh juga men-sukun-kan mim dan mem-fathah-kannya- menurut istilah adalah suatu hari dalam sepekan yang di dalamnya diselenggarakan shalat secara khusus, yaitu shalat Jum’at.

Keutamaan Hari Jum’at

Hari Jum’at memiliki banyak sekali keutamaan. Berikut ini di antaranya:

1. Hari Jum’at merupakan anugerah yang diberikan Allah khusus kepada ummat Islam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَضَلَّ الله ُعَزَّ وَجَلَّ عَنِ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا، فَكَانَ لِلْيَهُوْدِ يَوْمُ السَّبْتِ، وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ اْلأَحَدِ، فَجَاءَ الله ُبِنَا فَهَدَانَا لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ، فَجَعَلَ الْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ وَاْلأَحَدَ، وَكَذَلِكَ هُمْ تَبَعٌ لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، نَحْنُ اللآخِرُوْنَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا، وَاْلأَوَّلُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ المَقْضِيُّ بَيْنَهُمْ قَبْلَ الْخَلاَئِقِ {رواه مسلم}

“Alloh telah menyesatkan orang-orang sebelum kita dari hari Jum’at. Sehingga hari Sabtu adalah milik orang Yahudi dan hari ِAhad (Minggu) adalah milik orang Nasrani. Kemudian Alloh mendatangkan kita dan menunjuki kita kepada hari Jum’at, maka Ia jadikan hari jum’at, sabtu dan ahad (bagi kita). Begitu pula pada hari kiamat mereka akan mengikuti kita. Kita adalah umat terakhir di dunia ini, tetapi akan menjadi yang pertama diberi keputusan pada hari kiamat sebelum makhluk yang lain.” (HR. Muslim)

2. Hari Jum’at adalah hari yang paling baik.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيْهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ {رواه مسلم}

“Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dikeluarkan darinya, dan tidak akan terjadi hari kiamat kecuali pada hari Jum’at.” (HR. Muslim)

3. Pada hari Jum’at terdapat pelaksanaan shalat Jum’at.

Shalat Jum’at merupakan salah satu kewajiban paling kuat (kokoh) dalam Islam dan merupakan salah satu momen berkumpulnya kaum muslimin. Barangsiapa meninggalkannya karena meremehkannya, niscaya Alloh akan mengunci mati hatinya, sebagaimana tertera dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ اَلْجُمُعَاتِ أَوْلَيَخْتَمِنَّ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُوْنَنَّ مِنَ الْغَافِلِيْنَ {وراه مسلم}

“Hendaklah suatu kaum benar-benar menghentikan perbuatan mereka meninggalkan shalat Jum’at atau Alloh benar-benar akan mengunci mati hati mereka, sehingga mereka termasuk orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)

4. Pada hari itu terdapat saat-saat yang tepat untuk dikabulkannya do’a.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إَنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ الله َشَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ – وَقَالَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا {متفق عليه}

“Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat-saat yang tidaklah seorang hamba muslim tepat menemuinya dalam kondisi berdiri menunaikan shalat dan meminta sesuatu kepada Alloh melainkan Alloh akan kabulkan permintaannya” —Beliau berisyarat dengan jarinya bahwa waktu tersebut sangat singkat. (Muttafaq ‘Alaihi)[1]

4. Shadaqah pada hari Jum’at lebih baik dibandingkan hari-hari lainnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Shadaqah pada hari Jum’at jika dibandingkan dengan hari-hari lain seperti shadaqah pada bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lain.

Dalam hadits Ka’ab disebutkan:

… وَالصَّدَقَةُ فِيْهِ أَعْظَمُ مِنَ الصَّدَقَةِ فِي سَائِرِ اْلأَيَّامِ

“Shadaqah pada hari itu lebih agung dibandingkan shadaqah pada hari-hari lainnya.” (Hadits shahih mauquf, dan dihukumi marfu[2])

5. Pada hari Jum’at Alloh ‘Azza wa Jalla akan menampakkan diri ke hadapan wali-wali-Nya di Surga kelak.

Ketika menafsirkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

“dan pada sisi Kami adalah tambahannya.” (QS. Qaaf: 35)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan menampakkan diri kepada mereka pada setiap hari Jum’at.

6. Hari Jum’at merupakan hari raya yang berulang-ulang setiap pekan.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيْدٍ جَعَلَهُ الله ُلِلْمُسْلِمِيْنَ فَمَنْ جَاءَ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ

“Sesungguhnya hari ini (hari Jum’at-pent) adalah hari raya yang telah Alloh tetapkan untuk kaum muslimin, maka barangsiapa yang akan menghadiri shalat Jum’at hendaklah ia mandi terlebih dahulu…” (HR. Ibnu Majah, sebagaimana tertera dalam Shahih at- Targhib)

7. Hari Jum’at merupakan hari dihapusnya dosa-dosa.

Dari Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثمُ َّيُصَلِّيْ مَاكُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى {رواه البخاري}

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, bersuci semampunya, serta memakai wangi-wangian, atau menggunakan sebagian dari minyak wangi keluarganya, kemudian ia keluar (menuju masjid) dan tidak memisahkan antara dua orang, lantas menunaikan shalat sesuai yang ditetapkan untuknya, lalu diam ketika imam sedang berkhutbah melainkan akan diampuni dosanya di antara jum’at tersebut dan jum’at lainnya.” (HR. Bukhari)

8. Bahwasanya Neraka Jahanam dipanaskan (dikobarkan) setiap hari kecuali hari Jum’at, untuk memuliakan hari yang sangat agung ini. (Lihat: Zaadul Ma’ad: I / 387)

9. Wafat pada hari Jum’at atau pada malam harinya merupakan salah satu tanda-tanda husnul khatimah.

Orang yang wafat ketika itu akan aman dari fitnah kubur dan pertanyaan dua Malaikat. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، إِلاَّ وَقَاهُ الله ُتَعَالَى فِتْنَةَ الْقَبْرِ {رواه أحمد والترمذي وصححه الألباني}

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari Jum’at atau malam harinya melainkan Alloh akan melindunginya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad serta Tirmidzi, dan dishahihkan oleh al-Albani)


[1] Ulama berbeda pendapat dalam menentukan waktu yang mustajab itu. Ada yang mengatakan bahwa waktu itu mulai dari duduknya imam sampai selesainya shalat Jum’at, dan ada yang mengatakan bahwa waktu itu berada setelah shalat Ashar. Namun yang penting, hendaknya kita memperbanyak do’a di hari Jum’at. Mudah-mudahan doa kita bertepatan dengan waktu mustajab itu.

[2] Hadits mauquf artinya hadits yang terhenti rantai perawinya sampai pada Sahabat saja, atau dengan kata lain adalah perkataan Sahabat. Sedangkan hadits marfu’ adalah hadits yang tersambung rantai perawinya sampai ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

BAB I: KASIH SAYANG ALLAH

“Sesungguhnya Allah Maha Pengampun

lagi Maha Penyayang.”

(QS. Al-Muzammil: 20)

˜ooo™

Dalam mengarungi bahtera kehidupan, terkadang kita sering lupa dan lalai. Kondisi keimanan kita sering labil. Terkadang naik dan terkadang turun.

Setiap harinya, baik disengaja maupun tidak, ada saja aturan-aturan Allah yang kita langgar. Dari sejak bangun tidur hingga kita tidur lagi. Misalnya, tanpa bisa dicegah, mata ini sering jelalatan melihat hal-hal yang nggak bener. Mulut sering terpeleset ngomongin orang (ghibah). Dan masih banyak maksiat lainnya yang kita perbuat. Yang kecil maupun yang besar. Seolah, setiap harinya kita tidak pernah absen dari berbuat maksiat.

Namun, alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah, karena Allah sangat sayang kepada hamba-Nya. Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada kita ialah Allah menjadikan amalan-amalan dalam setiap hari, yang jika amalan itu kita lakukan “dengan benar”, bisa menghapus dosa yang telah kita perbuat.

Sebagai contoh, dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa wudhu lalu membaguskan wudhunya, maka kesalahan-kesalahannya akan keluar dari tubuhnya hingga keluar dari bawah kukunya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian berangkat menuju salah satu masjid Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban kepada Allah, maka langkah-langkahnya, yang satu menghapus dosa dan yang lain mengangkat derajat.” (HR. Muslim).

Kemudian juga, dalam mengarungi hidup, terkadang kita terlalu disibukkan oleh urusan dunia. Entah bekerja di kantor, berdagang, mengurus anak, dll. Sehingga waktu kita untuk melaksanakan ibadah jadi berkurang. Porsi untuk ibadah menjadi lebih sedikit dibandingkan waktu untuk mengerjakan aktivitas keduniaan. Saking sibuknya, kita hanya sempat melaksanakan amalan yang wajib. Sedangkan amalan sunnah terbengkalai. Kalaupun dikerjakan, itupun hanya sekali-kali saja. Akhirnya, kitapun terluput dari mendapatkan pahala amalan-amalan sunah itu.

Namun, lagi-lagi Allah menunjukkan kasih sayang-Nya kepada kita. Allah menjadikan waktu-waktu tertentu (khusus), di mana di waktu itu, jika seorang melakukan sebuah amalan, maka akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah. Misalnya saja, Allah menjadikan satu malam di bulan Ramadhan, yang ibadah di malam itu nilainya sama dengan ibadah selama seribu bulan. Malam itu kita kenal dengan malam lailatul qodar.

Barangkali ada yang berkomentar: “Tapi khan, malam lailatur qodar adanya cuma sekali dalam setahun. Jadi terlalu lama untuk menunggunya. Ada tidak yang lebih lebih cepat dari itu?

Oo tentu saja ada. Apa sih yang tidak ada dalam Islam? Lha wong Islam ini lengkap, kok!

Kalau kita mau, dalam setiap minggu ada satu hari istimewa yang di hari itu, jika kita mengamalkan suatu amalan, maka akan dihitung puasa dan shalat sunnah selama setahun. Juga, sedekah pada hari itu lebih agung kedudukannya dari hari-hari yang lain. Dan, masih ada seabrek keutamaan dan keistimewaan lainnya. Hari istimewa itu ialah hari Jum’at.

Namun perlu diingat. Untuk mendapatkan keutamaan dan keistimewaan itu, tidak bisa sembarangan. Ibadah yang kita lakukan harus memenuhi dua syarat: (1) ikhlas karena Allah dan (2) sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah. Tanpa dua syarat ini, ibadah yang kita lakukan akan sia-sia. Tiada pahala yang akan kita peroleh.

Sebenarnya, apa sajakah keistimewaan yang ada di hari Jum’at? Bagaimana cara memperolehnya? Benarkah Jum’atan bisa membuat orang menjadi kaya dan panjang umur? Mari kita simak bersama-sama.

SUATU SIANG DI HARI JUM’AT

(SEBUAH PENGANTAR)

Jam di dinding Masjid menunjukkan pukul 11 siang. Kurang-lebih satu jam lagi masuk waktu Jum’at. Namun, ruangan masjid masih terlihat kosong melompong. Belum ada jama’ah yang hadir. Cuma terlihat beberapa orang marbot yang sedang sibuk menggelar karpet dan menyiapkan sound system untuk keperluan khatib berceramah.

Di luar masjid orang-orang masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Para pedagang masih berteriak-teriak menjajakan barang dagangannya, supir metro mini masih kebut-kebutan berebut penumpang, pekerja kantor masih asyik di depan komputernya, dan para pelajar masih khusyuk mendengarkan ceramah pak guru di depan kelas.

Tak jauh beda dengan pemandangan di dalam rumah. Ada yang masih selonjoran dengan santainya di depan televisi. Ada yang masih meringkuk di atas kasurnya yang empuk, karena habis begadang semalaman. Ada yang masih asyik bersenda gurau bersama anggota keluarga yang lain.

Jarum jam di dinding masjid sedikit demi sedikit bergeser. Tak terasa tiga puluh menit telah berlalu dari pukul 11. Sekarang pukul 11. 30

Terlihat satu-dua orang mulai memasuki ruangan masjid. Ada yang memakai baju koko dan kain sarung, lengkap dengan peci di kepala. Ada yang memaki gamis putih dengan sorban tergantung di pundak. Ada yang memakai kemeja lengan panjang dan celana panjang bahan (non jeans). Ada juga yang hanya mengenakan kaos oblong full gambar nggak karuan plus celana jeans ketat dan kucel.

Ada jama’ah yang begitu masuk langsung mengambil shaf paling depan dan shalat dua rakaat, lalu khusyuk membaca Al-Qur’an. Ada juga yang begitu masuk langsung duduk di shaf belakang kemudian duduk bersandar sambil tangannya asyik memainkan HP.

Sebagian jama’ah lagi ada yang masih duduk-duduk di teras masjid sambil ngobrol dengan kawannya. Ada yang sedang merem-melek menghabiskan batang rokoknya yang tinggal seperempat. Ada yang sedang santai menyantap mie ayam yang baru saja di pesannya dari pedagang yang mangkal di depan pagar masjid. Ada juga yang sedang berkerumun di sekitar penjual buku yang menggelar dagangannya di halaman masjid.

Jarum jam kembali berputar. 10 menit lagi adzan akan segera dikumandangkan. Petugas MC sudah naik ke mimbar memberikan beberapa informasi terkait pelaksanaan shalat Jum’at. Tak lupa sang MC mengingatkan jama’ah untuk mengisi shaf terdepan terlebih dahulu. Terlihat jama’ah yang hadir belum ada setengahnya.

Orang-orang di rumah ada yang baru mau akan mandi. Para pedagang di pasar baru saja akan mengemasi barang dagangannya. Namun ada juga yang masih sibuk bertransaksi. Para supir angkutan umum masih terlihat berseliweran. Hanya ada beberapa yang memarkir mobilnya di pangkalan, kemudian beranjak menuju masjid terdekat dengan keringat yang bercucuran.

Adzan pun kini berkumandang. Orang-orang bergegas memasuki masjid. Tampak beberapa orang melangkahi pundak jama’ah yang ada di depannya untuk mencari tempat kosong. Ada juga yang duduk-duduk di tangga masjid dengan posisi membelakangi kiblat sambil menunggu khatib selesai khutbah.

Namun, di luar sana, masih ada saja orang Islam yang enggan untuk beranjak dari tempat duduknya. Mereka tidak peduli dengan panggilan adzan yang bersahut-sahutan dari pengeras suara yang bertengger di menara masjid: Hayya ‘alas Sholaah…! Hayya ‘alal falah…!

***

Pembaca yang dirahmati Allah.

Ilustrasi di atas hanyalah sebuah gambaran kecil dari realita sebenarnya yang ada di tengah-tengah kita. Betapa banyak, kalau kita perhatikan, kaum muslimin yang memandang hari Jum’at tak ubahnya seperti hari-hari yang lain, tiada beda. Paling-paling yang mereka tahu, bahwa di hari Jum’at ada pelaksanaan shalat Jum’at. Itu saja.

Padahal, kalau mau dibandingkan dengan hari-hari yang lain, hari Jum’at memiliki banyak sekali keistimewaan. Sehingga, wajar saja jika Rasulullah mengkhususkan hari Jum’at untuk fokus melakukan berbagai macam ibadah. Sebagaimana perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad,” Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengagungkan, mengistimewakan, serta memuliakan hari Jum’at dibanding hari lainnya dengan berbagai macam ibadah”. Maka, sangat merugilah orang-orang yang melewati hari Jum’at, namun tidak mendapatkan keistimewaan yang ada di dalamnya.

Oleh karena itu, melalui risalah sederhana ini, saya ingin memotivasi diri saya sendiri (khususnya) dan kaum Muslimin (pada umumnya) untuk memperbanyak ibadah di hari Jum’at. Sekaligus, dalam buku ini, saya akan berikan sebuah informasi berharga bahwa hari Jum’at bisa dijadikan moment untuk memperkaya diri sekaligus ”memperpanjang” umur.

Semoga hadirnya buku ini bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik untuk semua pihak. Amien.

Bogor, Maret 2008

Abdul Jabbar

JUM’ATAN BISA BIKIN KAYA DAN PANJANG UMUR

DAFTAR ISI

SUATU SIANG DI HARI JUM’AT

KASIH SAYANG ALLAH

ADA APA DENGAN HARI JUM’AT

q Mengenal Hari Jum’at

q Keutamaan Hari Jum’at

MERAIH PAHALA BERLIMPAH

SHALAT JUM’AT

q Hukum Shalat Jum’at

q Wanita dan Shalat Jum’at

q Dasar Kewajiban Shalat Jum’at

q Keistimewaan Shalat Jum’at

q Agar Jum’atan Tak Sia-Sia

q Tata Cara Shalat Jum’at

KAYA DAN PANJANG UMUR SETELAH JUM’ATAN

PENUTUP

SUPLEMEN I: TATA CARA MANDI JUNUB

SUPLEMEN II: ETIKA DI MASJID