Sayangilah setiap yang ada di permukaan bumi,
niscaya Allah Yang berada di atas langit
akan menyayangimu
(HR. Ahmad)
SEKILAS TENTANG KEINDAHAN ISLAM
|
S |
ebagai seorang muslim, tentu sangat wajar jika kita menginginkan syari’at Islam diberlakukan di tengah-tengah kita. Sebab, menurut keyakinan kita, hanya dengan syari’at Islam sajalah kedamaian akan bisa terwujud. Bukan hanya untuk ummat Islam, melainkan untuk ummat-ummat yang lain (non-Muslim). Sebab, Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin (rahmat untuk seluruh alam). Dan, aturan Islam adalah satu-satunya aturan yang bisa menyelesaikan semua problematika ummat.
Saya bukan sedang membual, pembaca. Saya serius! Berikut ini sedikit bukti akan kebenaran pernyataan saya di atas.
q Islam dan Kedamaian
Saya akan bawakan dua buah dalil yang menunjukkan bukti bahwa Islam adalah rahmat untuk seluruh alam. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَ سَبْعُوْنَ شُعْبَةً فَأَعْلاَهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ وَ الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ
”Iman itu ada 70 lebih cabang. Yang tertinggi adalah kalimat “Laa Ilaaha illallah”, dan yang paling rendah adalah “menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu adalah bagian dari iman”(HR. Muslim)
Simak baik-baik hadits di atas. Islam menjadikan perbuatan “menyingkirkan gangguan dari jalan” sebagai bagian dari keimanan seorang muslim. Oleh karena itu, bagi seorang muslim mengaku bahwa dirinya beriman, jika dia melihat gangguan di jalan, maka dia wajib menyingkirkannya. Apa saja bentuknya. Entah duri, paku, pecahan kaca, dsb. Tujuan apa? Tak lain dan tak bukan adalah agar pengguna jalan – siapapun dia- bisa merasa aman lewat di jalan itu.
Nah, dari hadits yang mulia ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Islam adalah agama kedamaian. Islam membawa keamanan bagi ummat manusia.
Dan, dari hadits ini pula kita bisa mengambil kesimpulan bahwa perbuatan teror (seperti membom tempat-tempat umum dll.) yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku dirinya Muslim, pada hakikatnya perbuatannya itu bukanlah dari Islam sama sekali, meskipun mereka teriak seribu kali bahwa perbuatannya itu mengatasnamakan Islam.
Sekali lagi coba kita renungkan. Kalau menyingkirkan duri dari jalan saja termasuk cabang keimanan, lantas bagaimana mungkin membunuh orang banyak tanpa alasan yang dibenarkan dan merusak harta milik orang lain termasuk dalam bingkai keimanan?!
Dalam hadits lain Rasulullah bersabda,
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
” Barangsiapa yang membunuh orang kafir mu’ahad, niscaya ia tidak akan akan mencium bau surga.” (HR. Al-Bukhari)
Kafir mu’ahad adalah orang kafir yang terlindungi darahnya, karena mereka mendapatkan izin masuk oleh suatu negara, baik untuk bekerja, berwisata atau tujuan-tujuan lainnya.
Jadi, jika ada orang kafir (misalnya turis asing) datang ke Indonesia, maka haram untuk diganggu. Kalau diganggu saja tidak boleh, apalagi sampai dibunuh dengan cara di-bom dll ! Padahal mestinya, dengan datangnya orang kafir ke negeri kaum muslimin merupakan kesempatan bagi orang Islam untuk memperkenalkan kepada mereka tentang keindahan Islam. Mudah-mudahan dengan begitu mereka jadi tertarik dengan Islam dan mau untuk masuk ke dalam Islam. Setelah itu, mereka bisa sebarkan Islam itu ke negaranya masing-masing. Sayangnya, orang Islam sendiri yang justru menyediakan fasilitas kemaksiatan untuk mereka. Jadi, siapa yang salah sebenarnya?
Bagaimana, Anda tentu sudah yakin, bukan, bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin? Sekarang saya ingin buktikan bahwa aturan Islam adalah satu-satunya aturan yang bisa menyelesaikan problematika yang ada di masyarakat.
q Islam adalah Solusi
Sekarang ini masyarakat kita resah dengan beragam permasalahan yang membelit bangsa ini. Seperti misalnya kasus pornografi, pornoaksi, perzinaan, pemerkosaan, dan perselingkuhan. Belum lagi kasus kriminalitas lainnya seperti pencurian dan pembunuhan. Pengangguran semakin banyak. Masyarakat miskin di mana-mana. Ditambah lagi pergaulan bebas para remaja yang semakin tak terkontrol. Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Lalu, bagaimana solusinya?
Mungkin, kalau pertanyaan ini diajukan kepada para wakil rakyat kita, butuh waktu berbulan-bulan dan menelan dana banyak untuk merumuskan jawaban yang tepat. Kita tentu masih ingat dengan RUU APP, bukan?
Padahal, kalau kita mau melirik kepada Islam, semua jawaban tersedia. Tinggal kitanya, mau mempraktikkan atau tidak. Coba saja buka-buka Al-Qur’an dan hadits, insya Allah, akan Anda temukan “solusi jitu” dari beragam problematika yang sedang membelit bangsa ini. Kenapa saya katakan solusi jitu? Sebab, solusi ini berasal langsung dari Allah, Pencipta manusia, Yang tentu saja paling tahu tentang segala sesuatu yang bisa membuat baik kehidupan manusia.
Kalau begitu, apa solusi Islam terhadap semua problematika di atas?
Mudah saja. Dalam Islam, ada aturan berpakaian. Saya sudah menyebutkannya di Bab Aturan Islam dalam Berpakaian. Coba sekarang Anda bayangkan, seandainya cara berpakaian masyarakat sesuai dengan aturan Islam. Laki-lakinya berpakaian sopan dan wanitanya mengenakan jilbab syar’i. Maka, apa yang terjadi. Saya yakin 100 %, kasus perzinaan, pelecehan seksual, dan pemerkosaan akan bisa ditekan seminimal mungkin. Apalagi dengan diadakannya hukum rajam bagi pelaku zina, tentu akan lebih efektif lagi. Orang tentu akan berfikir 1000 kali kalau ingin berzina.
Kemudian, seandainya para wanitanya semua memakai jilbab syar’i, tentu kasus pereselingkuhan akan hilang dengan sendirinya. Sebab, ketika para suami keluar rumah, kemudian mereka melihat para wanita yang berbusana serba tertutup, maka mereka tentu akan lebih betah tinggal di rumah. Karena di rumahnya mereka bisa melihat sang istri menyuguhkan dandanan yang “ehm…”. Dengan begitu keharmonisan rumah tangga akan lebih terjaga. Dan, tidak ada lagi istilahnya “cuci mata” di luar rumah. Gimana mau cuci mata, lha wong tertutup semua!
Lalu, bagaimana dengan orang-orang (misalnya artis-artis barat dan para pengikutnya) yang tidak menutup aurat dan masih suka berpornografi dan pornoaksi ria, entah di majalah, film, panggung dll.
Oo gampang saja. Dalam Islam, laki-laki dan wanita wajib menundukkan pandangan. Jadi, haram untuk melihat aurat lawan jenis. Nah, jika orang Islam mau menerapkan syari’at ini, insya Allah, pelaku pornografi dan pornoaksi akan berhenti sendiri. Sebab aksi panggungnya tidak akan ada yang nonton dan majalahnya tidak akan ada yang beli. Lama-kelamaan mereka juga akan gulung tikar dan alih profesi. Tul gak?!
Mungkin ada yang berkata begini,”Di agama lain juga diharamkan zina, mencuri, membunuh dll”.
Maka saya katakan: Ya, saya tidak menyangkal jika ada agama lain yang mengharamkan perbuatan tercela, seperti zina dll. Sebab setiap agama pada dasarnya mengajarkan manusia untuk berbuat kebajikan dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Tapi ada yang perlu Anda catat: Bahwa Islam lebih dari sekedar itu. Islam membimbing kita dengan cara praktis untuk mencapai kebajikan dan menjauhkan diri dari kejahatan dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.
Misalnya saja, ketika Islam mengharamkan suatu perbuatan, maka Islam juga mengharamkan segala sarana yang bisa membawa kepada perbuatan haram itu. Dan, inilah yang tidak ada pada agama-agama lain.
Contoh, Islam mengharamkan zina. Islam juga mengharamkan segala sarana yang bisa mengantarkan pada perzinaan, seperti melihat aurat lawan jenis, bersepi-sepian antar lawan jenis (kholwat), bercampur baur antara pria dan wanita (ikhtilat), menampakan aurat, berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan muhrim, melirihkan suara bagi wanita ketika berbicara dengan laki-laki, pamer aurat dan lekuk-lekuk tubuh dll. Adakah aturan seperti ini dalam agama lain ?
Saya jadi teringat dengan perkataan seorang ustadz ketika dia menyampaikan ceramah tentang “dunia wanita”. Kira-kira perkataan si ustadz begini,” Bohong besar jika ada orang yang berteriak-teriak ingin memberantas zina, perkosaan, dan pelecehan seksual terhadap para wanita. Tapi, dia membiarkan saja para wanita berkeliaran dengan mengenakan pakaian yang siap untuk diperkosa…!”
Gimana, Anda setuju dengan perkataan si ustadz ini?
Barangkali ada yang mencoba memberikan sanggahan begini: Jika Islam adalah agama terbaik, mengapa banyak orang Islam yang tidak jujur, tidak dapat dipercaya, dan melakukan penipuan, pencurian, menyuap, korupsi, dan mengkonsumsi obat-obatan terlarang.”
Jawabnya mudah saja. Saya yakin Anda pun tentu bisa menjawabnya. Tapi saya akan coba memberi jawaban begini: Kalian jangan menilai mobil dari sopirnya! Lho, apa maksudnya?!.
Jika Anda ingin menilai betapa bagusnya model keluaran baru mobil ‘Mercedes’, kemudian Anda melihat ada seseorang yang tidak bisa menyetir duduk di tempat duduk sopir lalu menyetir mobil itu dan menabrak tiang listrik, siapa yang akan Anda salahkan? Mobil itu atau orang yang menyetirnya? Otomatis Anda akan menyalahkan sang sopir. Untuk meneliti kebagusan mobil itu, seseorang tidak bisa melihat pada sopir, tetapi harus melihat pada kemampuan dan keistimewaan yang ada pada mobil itu. Seberapa tinggi kecepatannya, berapa kapasitas bahan bakarnya, fasilitas kenyamanannya apa saja, dan lain sebaginya.
Jadi, jika Anda ingin menilai seberapa bagus agama Islam, maka nilailah dari sumber yang asli, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
***
Tampaknya uraian saya ini akan panjang jika ingin diteruskan. Jadi, cukup sampai sini dulu. Jika Anda belum puas, silakan baca sendiri Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah. Insya Allah, solusi dari problematika masyarakat ada semua di sana.
Intinya, saya hanya ingin menunjukkan bahwa aturan Islam adalah satu-satunya aturan yang bisa menyelesaikan semua problematika ummat. Dan, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Jadi, sangat wajar jika ummat Islam rindu untuk diatur oleh Islam, dan bisa merasakan kembali sejuknya tinggal di bawah naungan Khilafah seperti jaman Rasulullah dahulu.
MENEGAKKAN KHILAFAH
Seorang muslim wajib melaksanakan semua syari’at Islam secara kaffah (menyeluruh). Allah berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan…”. (QS. Al-Baqarah [2]: 208]
Sebagaimana kita ketahui, ada beberapa syari’at Islam yang tidak akan mungkin dilaksanakan kecuali dengan adanya sebuah negara. Seperti hukum rajam bagi pelaku zina dan potong tangan bagi pencuri. Oleh karena itu, mewujudkan negara yang berdasarkan syari’at Islam hukumnya wajib. Berdasarkan kaidah fikih: Maa laa yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib (Sebuah kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan adanya “sesuatu”, maka “sesuatu” itu menjadi wajib). .
Namun, yang jadi pertanyaan kita sekarang adalah: bagaimana cara kita menegakkan khilafah?
Jika pertanyaan ini diajukan kepada para aktivis dakwah, jawaban yang muncul ternyata beragam. Ada yang memperjuangkannya lewat parlemen, lewat opini publik, pembersihan aqidah ummat dari kesyirikan… dll. Masing-masing mengajukan teori dan argumentasi yang menguatkan pendapatnya.
Akibat perbedaan pandangan ini, lahirlah masalah baru. Yaitu, perpecahan dikalangan ummat Islam. Ummat Islam menjadi terkotak-kotak dalam kelompok-kelompok kecil yang banyak. Masing-masing mereka menganggap bahwa cara yang mereka tawarkan adalah yang terbaik dan paling tepat untuk mewujudkan kembali Khilafah Islamiyah. Keadaan mereka persis dengan yang difirmankan Allah:
![]()
“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. Ar-Rum [30]:32)
Terkadang ada yang berkata begini: Sudahlah, tidak usah dipermasalahkan. Biarkan saja setiap kelompok pakai cara masing-masing. Yang penting kan tujuannya sama. Jadi, kita bagi-bagi tugas saja. Ada yang dakwah lewat parlemen, lewat opini publik, lewat pemurnian aqidah dll. Sesama orang Islam jangan cakar-cakaran!”
Saya katakan: Sepintas, secara akal, perkataan ini terdengar manis dan indah. Tapi, kita jangan lupa. Setiap yang kita anggap baik menurut akal dan perasaan kita, belum tentu baik bagi Allah. Boleh jadi kita menganggap sesuatu itu baik dan benar, tapi ternyata buruk dan keliru di mata Allah. Dan, boleh jadi kita menganggap sesuatu itu obat, tapi ternyata penyakit menurut penilaian Allah.
Oleh karena itu, kita harus melihat dan menilai sesuatu dari kaca mata syari’at, bukan berlandaskan akal dan perasaan semata. Sebab, akal manusia sifatnya sangat terbatas.
Allah berfirman:
“Katakanlah: Tunjukkanlah bukti (dalil) kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 111)
Dalam ayat ini, Allah menjadikan parameter kebenaran adalah “dalil”. Jadi, untuk mengetahui sesuatu itu baik dan benar, kita harus mengukurnya dengan dalil. Dalam Islam, yang dimaksud dengan dalil adalah Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ Sahabat.
Lalu, berdasarkan dalil, langkah apa yang seharusnya kita tempuh dalam menegakkan Khilafah Islamiyyah?
Pertanyaan ini mungkin terasa aneh jika diajukan oleh seorang Muslim, apalagi jika pertanyaan tersebut muncul dari seorang aktivis dakwah. Sebab, mereka tentu tahu persis bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang sempurna, sebagaimana yang diberitahukan oleh Allah dengan firman-Nya:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)
Jadi, Islam sudah sempurna. Segala sesuatu telah dijelaskan dalam Islam. Bahkan sampai yang sekecil-kecilnya, seperti cara buang air besar. Jika cara buang air besar saja telah dijelaskan, apalagi cara menegakkan Khilafah !
Seandainya mereka (para aktivis dakwah) mau untuk berhenti sejenak, merenungkan, meluruskan, membetulkan dan menyatukan pemikiran mereka, niscaya mereka semua akan melihat bahwa cara dari menegakkan khilafah ini terlihat jelas dihadapan mereka. Akan tetapi, banyaknya kesibukan mereka dengan berbagai macam teori, permisalan-permisalan, serta pemikiran-pemikiran yang ada pada kelompok mereka masing-masing, membuat mereka terhalang dari mengetahui cara ini.
Padahal, dalam Al-Qur’an jelas-jelas dikatakan:
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Inilah jawabannya. Kita ikuti cara Rasulullah dalam menegakkan Khilafah. Apakah Rasulullah menegakkan Khilafah lewat parlemen? Apakah Rasulullah menegakkan Khilafah lewat opini publik? Apakah …
Kalau kita baca perjalanan hidup nabi, ketika Islam pertama kali muncul keadaannya tidak jauh beda dengan keadaan kita sekarang ini. Hukum Islam tidak diterapkan, para penguasa berbuat zalim, moral masyarakat bobrok, zina di mana-mana, para wanita keluar rumah dengan mengumbar aurat, minum minuman keras menjadi hal yang biasa, riba menggila, perpecahan antar kelompok (suku) tiada henti-hentinya.
Kemudian juga, ummat Islam pada waktu itu dalam kondisi yang sangat lemah. Mereka tertindas, teraniaya dan terusir dari tanah airnya. Kita tentu masih ingat bagaimana Bilal, ketika panas terik di padang pasir, ditindih dengan batu besar. Begitupun halnya dengan Khabbab bin Al-‘Art manakala majikannya memanaskan besi hingga memerah kemudian diletakkannya dipunggung Khabbab yang terbuka. Maka panas besi tersebut tidaklah berkurang dan padam kecuali karena lemak yang meleleh dari tubuh Khabab. Dan, tidak hanya Sahabat yang mengalami penganiyaan, Rasulullah pun sama. Bahkan berkali-kali mendapat percobaan pembunuhan.
Kaum Muslimin pada waktu itu juga pernah mengalami tahun-tahun penuh kesulitan. Sekian lamanya mereka memperoleh embargo ekonomi dari orang-orang kafir. Sehingga mereka mengalami kelaparan yang dahsyat. Mereka sampai memakan daun-daunan dan apa saja yang bisa dimakan untuk menyambung hidup.
Akan tetapi, menghadapi seabrek problema ini, dari mana Rasulullah memulai dakwahnya? Apakah dengan cara masuk parlemen? Apakah dengan opini publik tentang pentingnya Khilafah? Apakah dengan membagi-bagi tugas kepada para Sahabatnya dalam berdakwah? Ataukah…
Tidak! Bukan dengan itu beliau memulai dakwahnya. Akan tetapi, beliau memulai dari merubah individu-individu masyarakatnya terlebih dahulu. Yaitu, dengan membersihkan aqidah masyarakat dari noda-noda kesyirikan. Beliau mulai dari diri sendiri, keluarga, dan orang-orang terdekat. Hal ini beliau lakukan terus menerus selama 13 tahun di Mekah. Dan ternyata, hasilnya sungguh menakjubkan. Tegaklah Khilafah Islamiyyah.
Dan, tidak hanya Rasulullah yang cara dakwahnya seperti ini. Para Nabi dan Rasul sebelum beliau pun menempuh cara yang sama. Misalnya saja Nabi Musa dan Harun. Pada waktu itu mereka hidup di bawah pemerintahan yang zalim. Bahkan zalimnya tidak ketulungan. Tidak ada manusia di dunia ini yang mengalahkan kezaliman Fir’aun yang mengaku bahwa dirinya adalah tuhan.
Walaupun begitu, Nabi Musa dan Harun tidak memulai dakwahnya dari merubah sistem pemerintahan yang ada. Melainkan beliau ubah individu-individu masyarakatnya. Mereka mendakwahkan masyarakat untuk memurnikan tauhid dan tidak berbuat syirik. Bahkan, mereka berdua mendatangi langsung Fir’aun untuk mendakwahinya. Merekapun tidak bagi-bagi tugas. Misalnya, Nabi Musa membuat opini publik tentang pentingnya khilafah dan Nabi Harun lewat parlemen. Tidak. Akan tetapi dakwah mereka satu, yaitu tauhid.
Maka, jika kita ingin Khilafah tegak, ikuti contoh Rasulullah. Jangan ikuti yang selain beliau. Coba Anda renungkan baik-baik hadits berikut. Rasulullah bersabda:
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ
”Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah menyuruh kita shalat dengan cara yang sesuai dengan yang beliau contohkan. Begitupun dengan ibadah-ibadah lainnya, seperti puasa, zakat, haji dll. Kita tidak boleh membuat-buat cara tersendiri dalam beribadah.
Nah, menegakkan khilafah adalah ibadah. Bahkan termasuk ibadah yang sangat mulia di sisi Allah. Maka, jika kita mau mengambil faidah dari hadits tentang shalat ini, maka:
Tegakkanlah Khilafah sebagaimana kalian melihat “aku” menegakkan Khilafah!
(Dikutip dari buku saya yang berjudul ” MENGAPA MEREKA MEMAKAI CELANA NGATUNG? [Studi Kritis Terhadap Orang-orang yang Biasa Memakai Celana Di Atas Mata Kaki))
DIarsipkan di bawah: Kritis Dalam Beragama
tulisan anda luar biasa, bagaimana dengan ahmadiyah, apakah kita harus membiarkannya dengan memberitahu yang benar kepada mereka ato menghancurkannya seperti yang dilakukan FPI akhir-akhir ini
JAwab:
Silakan lihat tulsian saya di: penulispemula.wordpress.com
Terima kasih