Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah, keluarga, para Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak (sunnah) mereka hingga hari akhir.
Terus terang, awalnya saya tidak percaya. Masak sih Pak DH ngomong seperti itu?! Setahu saya, kalau melihat gaya bicaranya setiap kali menyampaikan ceramah, dia orangnya bijaksana. Ngomongnya lembut. Ditambah lagi, dia adalah seorang tokoh yang cukup disegani di kalangan mahasiswa dan masyarakat.
Ya, demikianlah respon saya pertama kali ketika mendengar cerita seorang kawan. Cerita ini berasal dari adiknya. Kata adiknya, ketika Pak DH sedang mengajar kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam), ada mahasiswa (kawan dari adik kawan saya) yang mengajukan pertanyaan.
“Bagaimana dengan orang-orang yang memakai celana di atas mata kaki ….?”, demikian kira-kira tanya si mahasiswa. Pak DH pun menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang ekstrim!”.
Mendengar hal ini saya pun kaget. Kok jawabannya nggak ilmiyah begini. Apa hubungannya memakai celana di atas mata kaki dengan sifat ekstrim? Bukankah orang yang memakai celana di atas kaki jumlahnya banyak. Ribuan, bahkan mungkin jutaan. Jadi, tidak hanya satu-dua orang. Lalu, apakah mereka semua adalah orang-orang yang ekstrim?
Memang, kita tidak memungkiri bahwa ada sebagian orang Islam yang ekstrim (berlebih-lebihan dalam mengamalkan agama) dan mereka terbiasa memakai celana di atas mata kaki. Tapi, apakah hal ini bisa dijadikan alasan untuk kita mengatakan bahwa orang yang memakai celana di atas mata kaki adalah orang-orang yang ekstrim?
Misalnya saja, ada sebagian orang yang biasa melakukan korupsi. Kemudian kita sering melihat dia memakai peci warna hitam. Apakah boleh kita mengatakan bahwa orang-orang yang memakai peci hitam adalah orang-orang yang korup? Tentu tidak, bukan?!
Padahal, keinginan saya, alangkah baiknya jika Pak DH menjelaskan terlebih dahulu kepada mahasiswanya tentang status hukum memakai celana di atas mata kaki dalam pandangan Islam. Baru kemudian, setelah itu, dijelaskan hubungan antara sifat ekstrim dengan memakai celana di atas mata kaki, jika memang ada keterkaitan di antara keduanya. Jadi, bukan langsung memvonis begitu.
Sebenarnya sih bukan apa-apa. Saya takutnya kita ini nanti jadi seperti orang-orang barat. Ketika mereka mendengar dan menyaksikan ada sebagian orang Islam yang biasa melakukan pengeboman dan teror kepada rekan senegaranya, maka mereka langsung mencap bahwa semua orang Islam adalah teroris. Sehingga mereka pun menjadi sangat benci dengan Islam. Bahkan, tak jarang, sebagian mereka langsung melakukan tindakan tak terpuji kepada setiap orang Islam yang tinggal di negara mereka.
Seperti yang dialami oleh seorang muslimah berjilbab bernama Natasha. Saat itu, ketika usianya masih 16 tahun, dia berjalan bersama kawannya dari penduduk asli Denmark di Kopenhagen. Tiba-tiba datanglah seorang pemuda di depannya dan langsung meludahi mukanya. Kemudian pemuda itu berteriak dengan keras agar dia kembali ke negara asalnya.
Nah, begitupun dengan hal ini. Bagaimana seandainya para mahasiswa menelan begitu saja mentah-mentah perkataan Pak DH. Apalagi Pak DH termasuk orang yang disegani dan suaranya didengar oleh hampir seluruh mahasiswa. Bisa-bisa, ketika para mahasiswa di jalan berjumpa dengan orang yang memakai celana di atas mata kaki, mereka pun langsung pasang tampang benci dan sinis. Atau, paling tidak, timbul perasaan curiga dan was-was dalam hati mereka, karena takut nanti diapa-apain oleh orang itu. Hal seperti ini tentu sangat tidak kita inginkan.
Oleh karena itu, agar permasalahannya menjadi jelas, kita akan coba bahas lebih dalam. Apa hukum memakai celana di atas mata kaki dalam Islam? Benarkah memakai celana di atas mata kaki termasuk ciri orang-orang yang ekstrim? Adakah hubungannya dengan kelompok Islam garis keras? Atau, adakah kaitannya dengan paham dan aliran tertentu?
Buku ini akan mengupas tuntas semuanya.
Mengapa judulnya “Mengapa ….?”
Sebelumnya, saya ingin bercerita sedikit tentang pemberian judul buku ini. Sengaja saya gunakan kalimat pertanyaan untuk judul buku ini: Mengapa mereka memakai celana ngatung ? Tujuannya adalah untuk mengajarkan kaum muslimin agar terbiasa bersikap kritis dalam kehidupan mereka sehari-hari. Terutama dalam beragama. Misalnya, ketika ada sesuatu yang aneh di masyarakat, tidak langsung menilai negatif. Akan tetapi, hendaknya mereka mencari tahu dan memandang serta menilainya dari kacamata syari’at (Islam): Kenapa kok begitu? Apakah ada aturannya dalam Islam? Apakah ada dalilnya dalam Al-Qur’an dan hadits? Apakah ada contohnya dari Rasulullah? Apakah para Sahabat Rasulullah memahami dan mengamalkan demikian? Dst.
Saya ambil contoh. Ketika kita melihat ada orang yang “menggerak-gerakkan jari telunjuk” ketika duduk tasyahud (dalam shalat), karena baru pertama kali melihat, jangan lantas kita mengatakan “Nih orang shalatnya aneh banget sih!” atau “Wah…aliran mana lagi nih!”. Jangan…jangan kita bersikap seperti itu. Akan tetapi, hendaknya kita mencari tahu: Mengapa orang itu shalatnya seperti itu? Apakah menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika duduk tasyahud ada dalilnya? Apakah ada contohnya dari Rasulullah? Apakah …?
Seperti inilah yang seharusnya kita lakukan. Jangan sampai kita jatuh pada perbuatan membenci sunnah dikarenakan kita tidak tahu bahwa perbuatan itu adalah sunnah. Dan, sikap seperti ini pula lah yang ingin saya tularkan ke masyarakat melalui buku ini.
Akhir kata, saya memohon kepada Allah agar karya saya ini ditulis sebagai amal kebaikan di sisi-Nya. Juga, agar Allah berkenan memberikan tambahan ilmu kepada saya, serta memberi kemampuan untuk bisa mengamalkan dan menyampaikan ilmu yang telah saya kuasai. Semoga buku ini bermanfaat untuk kaum Muslimin.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, sahabatnya, dan ummatnya semua yang cinta kepada beliau dengan sebenar-benarnya cinta, serta mau menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan bagi mereka.
(Dikutip dari buku saya yang berjudul ” MENGAPA MEREKA MEMAKAI CELANA NGATUNG? [Studi Kritis Terhadap Orang-orang yang Biasa Memakai Celana Di Atas Mata Kaki))
DIarsipkan di bawah: Kritis Dalam Beragama