MENJELANG KEMATIAN UMAR BIN KHATHAB

“Jika suatu kaum mentaati Abu Bakar dan Umar,

niscaya mereka akan mendapat petunjuk.”

(HR. Muslim)

A

nda tentu kenal siapa Umar bin Khathab. Ya, benar. Dia adalah salah satu dari Khulafaur Rasyidin yang kita diperintahkan untuk mengikuti sunnah mereka. Rasulullah bersabda,”

“…Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian kelak akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, wajib bagi kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyin…”. (HR. Ibnu Majah, Ahmad dan Abu Dawud; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Hadits Shahihah [6/238])

Umar juga termasuk 10 orang yang mendapat jaminan Surga langsung dari Rasulullah. Rasulullah bersabda,”Abu Bakar di Surga, Umar di Surga, ‘Utsman di Surga, ‘Ali di Surga, Thalhah di Surga, Zubair di Surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di Surga, Sa’ad bin Abi Waqqash di Surga, Sa’id bin Zaid di Surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di Surga.” (HR. At-Tirmidzi; dishahihkan oleh Al-Albani)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda,

اِقْتَدُوْا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ أَبِيْ بَكْرٍ وَ عُمَرَ

“Ikutilah dua orang setelahku, yakni Abu Bakar dan Umar …”. At-Tirmidzi berkata,”hadits ini derajatnya hasan.” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam As-Silsilah [III/233-235])

Diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Shahih-nya dari hadits Abdullah bin Rabbah dari Abu Qatadah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِنْ يُطِعِ الْقَوْمُ أَبَا بَكْرٍ وَ عُمَرَ يُرْشِدُوْا

“Jika suatu kaum mentaati Abu Bakar dan Umar, niscaya mereka akan mendapat petunjuk.”

Sekarang, mari sama-sama kita simak pelajaran yang sangat berharga dari kisah terbunuhnya Umar bin Khathab.

KISAH TERBUNUHNYA UMAR BIN KHATHTHAB radhiyallahu ‘anhu[1]

Dalam suatu riwayat disebutkan:”Umar dibawa ke rumahnya (setelah beliau ditusuk-pent), maka kami pun pergi bersamanya. Seakan-akan orang-orang belum pernah tertimpa suatu musibah pun sebelum hari itu. Ada yang mengatakan:”Tidak mengapa.” Ada lagi yang mengatakan:”Saya khawatir terhadap keselamatan dirinya.”

Setelah itu, ada yang membawakan nabidz[2] untuk ‘Umar. Dia pun meminumnya. Ternyata minuman tersebut keluar lagi dari perutnya. Lalu ada pula yang membawakan susu untuknya. Dia pun meminumnya. Ternyata susu itupun keluar kembali melalui luka tusukannya. Mereka sadar bahwa ‘Umar sebentar lagi akan wafat.

Kami segera masuk menemuinya. Orang-orang pun berdatangan, lantas mereka mulai menyebutkan kebaikan-kebaikannya.

Lalu datanglah seorang pemuda. Dia berkata: “Bergembiralah wahai Amirul Mukminin dengan berita gembira dari Allah untukmu; engkau telah bersahabat dengan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam, engkau termasuk orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam, sebagaimana yang engkau ketahui, kemudian engkau memimpin dan engkau telah berbuat adil, dan akhirnya engkau mati syahid.”

Saat pemuda tersebut berpaling, tampak bahwa sarungnya menyentuh tanah, maka ‘Umar berkata:”Panggil kembali pemuda tadi.” Beliau lalu berkata kepada pemuda tersebut,

يَا ابْنَ أَخِيْ اِرْفَعْ إِزَارَكَ فَإِنَّهُ أَبْقَى لِثَوْبِكَ وَ أَتْقَى لِرَبِّكَ

”Wahai anak saudaraku, angkatlah pakaianmu (sampai di atas mata kaki-pent), karena sesungguhnya yang demikian itu lebih kekal[3] untuk pakaianmu, dan lebih takwa untuk Rabb-mu.”[4]

Renungkanlah kembali ucapan ‘Umar:

”Wahai anak saudaraku, angkatlah pakaianmu, karena sesungguhnya yang demikian itu lebih kekal untuk pakaianmu, dan lebih takwa untuk Rabb-mu.”

Beliau memerintahkan untuk mengangkat pakaian dan memendekkan kain sarung!

Apakah anjuran ini beliau sampaikan ketika beliau sedang memakan makanan, buah-buahan, dan manisan ?!

Tidak, sekali-kali tidak. Beliau menyampaikan anjuran ini pada saat beliau sedang berada dalam kondisi yang sangat kritis.

Beliau mengatakan perkataannya ini, saat kaum Muslimin tengah merasa ditimpa musibah dan kepedihan yang dahsyat.

Beliau mengucapkan ucapannya tersebut, padahal beliau sedang menghadapi kematian dan tengah mengucapkan selamat tinggal kepada kehidupan!

Saat kaum Muslimin tengah disibukkan dengan urusan Khilafah.

Saat mereka tengah disibukkan dengan kondisi ‘Umar.

Saat mereka tengah disibukkan oleh suatu musibah besar, sebagaimana diungkapkan oleh ‘Amr bin Maimun dengan perkataannya:”…Seakan-akan orang-orang belum pernah tertimpa suatu musibah pun sebelum hari itu.”

‘Umar mengucapkan kalimat itu pada saat tiga belas orang Sahabat ditikam, tujuh di antaranya meninggal dunia.

“Ini merupakan kondisi yang menyakitkan dan situasi yang sulit, namun tidak menghalangi ‘Umar untuk melarang memanjangkan pakaian, atau memerintahkan memendekkan kain sarung.”[5]

Lalu, bagaimana mungkin ada yang mengatakan bahwa saat ini bukanlah waktunya untuk melarang isbal (memanjangkan pakaian melebihi mata kaki), mencegah bid’ah, menganjurkan untuk mengambil hadits yang shahih dan meninggalkan hadits dha’if, serta berbicara tentang tema-tema lain yang semisal dengan ini?!

Ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang memiliki akal dan ilmu.

Demikianlah gambaran yang benar tentang pengagungan perintah-perintah Allah Ta’ala.

Jika engkau termasuk orang yang merasa bangga dengan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, maka inilah jalan dan metode beliau.

Jalan beliau adalah mengagungkan perintah-perintah Allah Ta’ala.

Metode beliau adalah mengagungkan perintah-perintah Rasul Shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Beliau tidak mengotak-ngotakkan agama menjadi kulit dan inti.

Inilah wujud ketaatan kepada Allah dalam setiap perintah yang telah sampai kepada beliau, baik dari Kitabullah, maupun dari Sunnah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam .

b&a

(Dikutip dari buku saya yang berjudul “Mengapa mereka memakai celana ngatung?”)


[1] Kisah ini saya kutip dari buku Menerapkan Syari’at Islam Dalam Diri, Keluarga dan Orang-orang yang Ada di Bawah Tanggung Jawab Anda Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awayisyah, hal. 78-83. Jadi, semua catatan kaki yang ada dalam kisah ini berasal dari buku tersebut

[2] Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath:”Yang dimaksud dengan nabidz di sini adalah beberapa buah kurma yang dilontarkan ke dalam air. Maksudnya, dicelupkan ke dalamnya. Mereka dahulu melakukan hal ini agar air tersebut terasa lebih segar dan enak.”

[3] Dalam riwayat lain disebutkan (أَنْقَى ) dengan huruf nun (sebagai pengganti dari huruf ba’, yang artinya adalah lebih bersih-pent).

[4] HR. Al-Bukhari (3700). Komentar-komentar berikutnya diambil dari buku saya (Syaikh Husain) Qishshah Maqtal ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu (hal. 12 dan seterusnya)

[5] Ini adalah perkataan sebagian ikhwan yang mulia dalam beberapa nasehatnya yang saya (Syaikh Husain) nukilkan secara makna.

Tinggalkan Balasan