MENYIKAPI KHILAFIYAH

S

aya sempat kaget mendengar cerita seorang kawan belum lama ini. Katanya, pada acara peringatan Maulid Nabi di sebuah daerah, penceramah yang diundang dalam acara itu mengeluarkan pernyataan bahwa ”orang yang mengatakan bahwa peringatan Maulid Nabi termasuk bid’ah, maka halal darahnya!”. Sungguh sebuah pernyataan yang cukup untuk membuat bulu kuduk merinding.

Jika memang benar yang dikatakan kawan saya itu, maka sungguh sangat disayangkan. Ukhuwah Islamiyah yang sekarang ini sudah mulai terbina, bisa rusak karenanya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan menjadi pemicu terjadinya pertumpahan darah antara sesama ummat Islam. Tulisan ini semoga bisa meredam hal itu.

Sudah Sunnatullah

Memang, kalau kita perhatikan, banyak sekali perbedaan pendapat (khilafiyah) di tubuh ummat Islam, terutama dalam masalah hukum-hukum fikih (fiqhiyyah). Ambil misal, yang paling populer, ialah permasalahan qunut Subuh. Ada yang berpendapat bahwa qunut Subuh terus-menerus termasuk bid’ah (ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah). Namun, ada yang berpendapat sebaliknya, qunut Subuh terus-menerus termasuk amalan sunnah (ada contohnya dari Rasulullah). Masing-masing memiliki argumentasi yang mendukung pendapatnya.

Dahulu, kita sering mendengar, perbedaan pendapat seperti ini bisa menyulut terjadinya pertikaian antara sesama ummat Islam. Bahkan tak jarang sampai menimbulkan baku hantam di antara sesama mereka. Hanya saja, semakin hari, ummat Islam terlihat semakin dewasa. Mereka terlihat lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan pendapat yang ada. Yang penting sekarang, kedua belah pihak tidak saling menjelek-jelekkan.

Sebenarnya, kalau kita mau kaji lebih jauh, munculnya banyak perbedaan pendapat di tubuh ummat Islam, justru hal ini menjadi bukti akan kebenaran Islam. Sebab, sudah jauh-jauh hari Rasulullah memberitakan akan terjadinya hal ini. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda,”Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku nanti, mereka akan melihat persilisihan yang banyak..” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dll.)

Jadi, perbedaan pendapat adalah sunnatullah yang mau tidak mau pasti terjadi. Tinggal sekarang, bagaimana cara kita menyikapinya? Jika kita menyikapinya dengan emosi dan tanpa ilmu, bisa-bisa kerusakan yang akan ditimbulkan. Namun, jika kita menyikapinya sesuai dengan petunjuk Rasulullah, insya Allah, perbedaan pendapat bukanlah suatu hal yang patut dirisaukan.

Jalan Keluar

Ketika Rasulullah memberitakan akan terjadinya banyak perbedaan pendapat di tubuh ummat Islam sepeninggal beliau nanti, beliau sekaligus memberikan solusi untuk bisa keluar dari keadaan itu. Dalam lanjutan hadits di atas, Rasulullah bersabda,”Maka, wajib bagi kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin.”

Jadi, berdasarkan hadits ini, ada dua cara dalam menyikapi perbedaan pendapat. Pertama, mengembalikannya kepada Sunnah Rasulullah. Tercakup dalam sunnah Rasulullah ini ialah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan, ini sesuai dengan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 59,” “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Kemudian, cara yang kedua ialah mengembalikannya kepada sunnah Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali). Yakni, kita cocokkan perbedaan yang ada dengan pemahaman dan pengamalan Khulafaur Rasyidin terhadap sunnah Rasulullah (Al-Qur’an dan Al-Hadits). Atau, ringkasnya, bisa kita katakan bahwa jalan keluar dari beda pendapat ialah mengembalikannya kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits sesuai dengan pemahaman dan pengamalan para Khulafaur Rasyidin. Inilah jalan keluar yang diajarkan oleh Rasulullah.

Studi Kritis

Dari sini bisa kita tarik pelajaran penting, bahwa sebenarnya ummat Islam diperintahkan untuk melakukan studi kritis. Ummat Islam harus cerdas. Ketika ada perbedaan pendapat, mereka diperintahkan untuk mengkaji secara mendalam dalil-dalil yang dikemukakan oleh masing-masing pihak yang berbeda pendapat. Adapun tolak ukur kebenarannya ialah sunnah Rasul dan sunnah Khulafaur Rasyiddin.

Kemudian, secara tidak langsung, Islam melarang ummatnya menjadi muqallid (pengekor). Ketika ada orang yang mengeluarkan sebuah pernyataan, tidak lantas diterima begitu saja. Terlebih dahulu harus diperiksa kebenarannya. Tidak peduli siapapun yang mengatakannya. Sebab, kata Imam Malik, setiap perkataan manusia bisa diterima dan bisa ditolak, kecuali perkataan Rasulullah.

Sayangnya, jarang sekali kita jumpai para tokoh agama (ustadz, kiai, dll.) yang mengajarkan mad’u-nya untuk bersikap kritis. Akibatnya, dalam kehidupan beragama, masyarakat kita cenderung bersikap ikut-ikutan (taklid). Setiap yang dikatakan tokohnya, itulah yang dianggap benar. Seolah-olah perkataan tokohnya adalah wahyu yang mutlak kebenarannya dan tidak bisa digangu gugat. Hal ini sungguh sangat kita sayangkan.

Saling Menghormati

Karena sudah menjadi sunnatullah, maka yang namanya perbedaan pendapat jelas pasti ada. Para Sahabat di jaman Rasulullah pun tidak luput dari yang namanya berbeda pendapat. Namun, kenapa mereka bisa adem-ayem meskipun terkadang berbeda pendapat? Hal ini disebabkan penyikapan mereka yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah. Maka, jika kita ingin hidup damai seperti mereka, tidak bisa tidak, kitapun harus mengikuti jejak mereka (QS. At-Taubah: 100). Tidak ada cara lain.

Kemudian, tak lupa pula agar kita saling menghormati. Ketika ada yang berbeda pendapat dengan kita, jangan langsung kita vonis sesat apalagi sampai menghalalkan darah segala. Hendaknya kita diskusikan secara baik-baik bersama pihak yang berbeda pendapat dengan kita. Sebab, bisa jadi, setelah didiskusikan dan dikaji secara mendalam, justru kebenaran itu berada dipihak orang yang pendapatnya berbeda dengan kita. Dan, ini bisa saja terjadi. Maka, di saat itu, kewajiban kita ialah mengikuti kebenaran, meskipun menyalahi keyakinan kita selama ini. Sebab, kebenaranlah yang lebih berhak untuk diikuti. Adapun orang yang menolak kebenaran, maka dia termasuk orang yang sombong. Rasulullah bersabda,”Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (Al-Hadits). Wallahu a’lam.

4 Responses to “MENYIKAPI KHILAFIYAH”

  1. Salam
    Mungkin kebanyakan mengikuti karena faktor figuritas yang akhirnya jadi taqlid buta. BTW yang terpenting jangan beda soal akidah aja, Umat islam kan bagai satu tubuh. Postingan yang menarik dan menyejukan. trims
    Salam kenal aja :)

    Terima kasih juga

  2. Assalammu’alaykum
    waah..artikel yang bagus akhi…barakallahu fik…

    Wa’alaikumussalam
    wa fiika barakalloh

  3. Ciri manusia sebagai makhluk yang suka berselisih hingga menumpahkan darah sudah dikabarkan dalam Al-Qur’an 2:30.

    “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”. Mereka berkata,”Apakah engkah hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”. Dia berfirman,”Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

    Ungkapan malaikat tersebut telah menjadi kenyataan, ketika manusia memperturutkan hawa nafsu dan ego (kebenaran adalah milik saya) nya.

    Salam..

    Salam juga

  4. Salam,
    Prof Khaled Abou Al-Fadh, seorang ahli hukum Islam yang mempunyai lebih 50 ribu kitab lama dan baru, mengatakan bahwa seseorang boleh diangkat menjadi seorang ahli hukum Islam apabila telah lebih 20 tahun mempelajari hukum Islam, dan menguasai semua mazhab dalam Islam sehingga setiap fatwa yang dikeluarkan benar2 adil tidak subjektif.
    Sekarang, ada orang kuliah di pertanian cuma rajin ikut kajian kampus, trus aktif di lembaga2 formal Islam, jadi pengurus MUI, langsung dengan seenaknya mengeluarkan fatwa sesat, bid’ah kepada kelompok yang berseberangan dengan dia,
    Saat ini kita telah berada dalam zaman krisis Ulama,
    Kiayi sudah main sinetron, dan pemain sinetron berubah jadi pendakwah.
    Baru kemaren masuk Islam, hapal 2 3 ayat langsung dakwa membabi buta, berani mengeluarkan pernyataan2 hukum tanpa rasa bersalah dan malu.
    Itulah saudaraku Islam saat ini….
    mari kita bersatu, mari kita saling menghargai, Nabi bersabda ” perbedaan dalam ummatku adalah rahmat”
    mari kita menjadi rahmatan lil ‘alamin bagi diri kita, keluarga, lingkungan, ummat Islam dan seluruh manusia.

    Salam kenal

    Secara umum saya sependapat dengan Anda. Intinya sih, kalo menurut saya, kita harus banyak belajar, banyak membaca, banyak mengkaji, menganalisa dan berpikir kritis. Jangan jadi muqollid (pengekor). Namun, jangan sungkan-sungkan untuk bertanya kepada ahlinya (ULAMA) jika kita tidak mengetahui suatu permasalahan. Tapi tetep jangan jadi muqallid. Hendaknya kita harus selalu mengedepankan sikap kritis.
    Kemudian, apabila kita melihat kekeliruan terdapat pada orang lain, hendaknya kita menasihati dan meluruskan secara baik-baik. Dengan penuh sopan-santun dan bahasa yang lembut, dan dengan sarana yang menurut kita paling mengena untuk orang itu. Lalu, seandainya ada orang yang meluruskan kita, hendaknya kita berbaik sangka terlebih dahulu kepada orang itu. Terimalah nasihatnya secara terbuka dan lapang dada. Jika ternyata yang disampaikannya menurut kita keliru, kita bisa memberi tanggapan balik secara baik-baik agar orang itu tidak tersinggung. Dengan begitu, akan tumbuhlah budaya saling menasihati dan saling menghargai di antara sesama ummat Islam. Begitu menurut saya. Bagaimana menurut Anda?
    Oya, mohon maaf sebelumnya. Hadits yang Anda bawakan ” perbedaan dalam ummatku adalah rahmat”, setahu saya, statusnya la ashla lahu (tidak-ada asal-usulya). Anda bisa baca penjelasan panjang lebarnya di kitab Sifat Shalat Nabi karya Syaikh Al-Albani rahimahullah. Wallahu a’lam.
    Mari kita bersatu di atas jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah dan para Shahabatnya (shirothol mustaqim). Allahu Akbar!!!

Leave a Reply