*-*-*-*-0-0-0-*-*-*-*
“Aku melihat kebanyakan manusia umumnya melewati waktu mereka dengan cara yang aneh. Jika datang malam, mereka menghabiskan waktu untuk obrolan kosong yang tidak berguna atau membaca buku komik dan cerita murahan. Sedangkan jika datang waktu siang, mereka tidur atau menghabiskan waktunya untuk duduk-duduk di pasar.”
(Imam Ibnul Jauzi rahimahullah)
-0-0-0-
|
A |
da saja alasan yang dikemukakan orang ketika dinasihati untuk menyempatkan diri belajar agama. Umumnya akan beralasan “sibuk” atau “tidak ada waktu”. Padahal kalau mereka mau, selalu saja ada waktu luang yang bisa digunakan untuk belajar agama. Entah itu membaca buku, dengerin kaset, atau nonton VCD kajian.
Bagi Anda yang selama ini merasa sibuk, sekarang, coba Anda sediakan selembar kertas dan pena untuk mengevaluasi waktu efektif Anda sehari-hari. Cobalah untuk menghitung rata-rata penggunaan waktu untuk setiap contoh item pertanyaan berikut ini:
- Berapa jam Anda tidur?
- Jam berapa Anda bangun pagi?
- Berapa lama Anda “mengumpulkan nyawa” di tepi tempat tidur sebelum beranjak ke kamar mandi?
- Berapa lama Anda nongkrong di WC?
- Berapa lama Anda mandi?
- Berapa banyak waktu Anda pakai untuk sarapan pagi di rumah?
- Berapa jam Anda selonjoran di depan televisi?
- Berapa lama perjalanan Anda ke sekolah/kampus/kantor?
- Jam berapa Anda tiba kembali di rumah?
- Berapa jam Anda ngobrol ngalor-ngidul dengan tetangga?
NAh, dari sekian banyak rutinitas Anda sehari-hari di atas, coba renungkan. Ada tidak yang bisa diefisienkan waktunya? Ada tidak yang bisa dihilangkan karena tidak ada manfaatnya? Saya yakin, selalu ada waktu luang yang bisa Anda gunakan untuk belajar agama.
Misalnya saja, selama ini Anda biasa nonton tivi sehari sebanyak 3 jam. NAh, sekarang Anda hentikan kebiasaan Anda ini. Kenapa? Karena, untuk sekarang ini, kalau dilihat dari sudut pandang agama, televisi lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Dalam hukum Islam, jika ada sesuatu yang mudharatnya lebih besar, maka wajib dijauhi. Bahkan, ada ulama -bahkan banyak- yang memfatwakan HARAM menonton televisi untuk saat ini. Apalagi, realita membuktikan bahwa daya rusak televisi sangat besar. Terutama kepada remaja dan anak-anak.
Begitupun dengan rutinitas Anda yang lain. Lalukanlah efisiensi. Terutama waktu tidur dan mengobrol. Kalau ada yang bisa dikurangi waktunya, kurangi saja. Kalau ada yang bisa dihilangkan, hilangkan saja. Efisienkan, hilangkan, efisienkan lagi, hilangkan lagi, dan begitu seterusya.
Saya yakin. Setelah Anda mengikuti saran saya ini, Anda akan mendapatkan diri Anda berlimpah waktu luang. Sekarang, gunakanlah waktu luang Anda itu untuk belajar agama.
Ibnu Uqail Al-Hambali berkata,”Saya persingkat waktu makan saya sesingkat mungkin, sampai saya memilih kue basah daripada roti tawar kering, karena antara keduanya ada perbedaan waktu dalam mengunyahnya. Sehingga cukup untuk menelaah dan menulis ilmu yang belum saya dapatkan.”
Ibnul Qayyim berkata,”Barangsiapa yang kelezatan belajar ilmu dan semangatnya tidak bisa mengalahkan kelezatan badan dan syahwatnya, maka dia tidak akan mencapai derajat orang yang berilmu selamanya. Apabila syahwatnya ada dalam belajar ilmu dan merasakan kelezatan dalam meraihnya, maka diharapkan bisa termasuk orang-orang yang berilmu.”
-0-0-0-
********
TERTIPU
****************
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ اَلصِّحَّةُ وَ الْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu
dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”
(HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dll)
-0-0-0-
(Dikutip dari buku saya yang berjudul “YUK, NGAJI, YUK!”)
DIarsipkan di bawah: 1