*-*-*-*-0-0-0-*-*-*-*
“Kebodohan dan kezhaliman
adalah pangkal dari segala keburukan.”
(Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah)
-0-0-0-
|
K |
alau kita membaca kisah hidup ulama zaman dahulu, sungguh kita akan berdecak penuh kekaguman. Bagaimana tidak? Bagi mereka, belajar agama seolah telah menjadi desah nafas mereka. Setiap waktu dan kesempatan mereka gunakan untuk belajar. Sampai-sampai ketika masuk WC pun mereka masih saja sempat untuk belajar.
Imam Nawawi tidak pernah menyia-nyiakan waktunya, baik di waktu malam maupun siang, kecuali menyibukkan dirinya dengan ilmu. Hingga ketika beliau berjalan di jalanan, beliau mengulang-ulang ilmu yang telah dihafalnya, atau membaca buku yang ditelaahnya sambil berjalan. Beliau melakukan ini selama enam tahun.
Abu Bakar Khayyath An-Nahwi (seorang pakar tata bahasa Arab) menggunakan seluruh waktunya untuk membaca, bahkan ketika ia berjalan. Terkadang beliau terjatuh di lubang atau ditabrak binatang di jalan (karena tenggelam dalam bacaannya)
Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata,” Imam Majduddin bin Taimiyah apabila masuk WC untuk membuang hajat, beliau berkata kepada orang-orang yang ada di sekitarnya,”Bacalah kitab ini dan angkatlah suaramu! (agar aku bisa mendengarmu dari dalam)”.
Demikianlah secuil potret kehidupan ulama dahulu dalam belajar. Sebuah gaya hidup yang pantas untuk ditiru. Kalau kita mau, kita pun bisa seperti mereka. Kenapa tidak?! Bukankah kita sama-sama terlahir dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (QS. An-Nahl [16]:78)
Kita pun sama-sama diberi modal oleh Allah sebesar 24 jam dalam sehari semalam.Lalu, apa yang menghalangi kita untuk bisa menjadi seperti mereka?
Tinggal sekarang yang jadi persoalannya adalah; mau tidak kita mencontoh gaya hidup mereka? Itu saja. Kalau tidak mau, ya selamanya kita akan menjadi seperti ini. Miskin ilmu.
Ya iya lah…Terang saja mereka bisa jadi ulama. Mereka khan belajarnya sejak kecil. Kalau kita, baru sekarang mau mulai belajar!
Eit, jangan salah! Belum dengar ya ada ulama yang dulunya adalah seorang artis dan perampok? Atau ulama yang dahulunya beragama Nashrani dan baru masuk Islam setelah dewasa? Nih saya ceritakan untuk Anda.
‘Abdurrahman bin An-Nafis, salah seorang ulama mazhab Hambali, dulunya adalah seorang penyanyi. Ia mempunyai suara yang bagus, lalu ia bertaubat dari kemunkaran ini. Ia pun menuntut ilmu dan ia pun bisa menghafal kitab Al-Haraqi, salah satu kitab mazhab Hambali yang terkenal. Lihatlah bagaimana keadaannya semula. Ketika ia jujur dalam taubatnya, apa yang ia dapatkan?
Demikian pula dengan ‘Abdullah bin Abil Hasan Al-Juba’i. Dahulunya ia seorang Nashrani. Keluarganya juga Nashrani bahkan ayahnya seorang pendeta. Orang-orang Nashrani sangat mengagungkan mereka. Akhirnya ia masuk Islam, menghafal Al-Qur’an dan menuntut ilmu. Sebagian orang yang sempat melihatnya berkata,”Ia mempunyai pengaruh dan kemuliaan di kota Baghdad.
Demikian juga dengan Nashiruddin Ahmad bin ‘Abdis Salam. Dahulu ia adalah seorang perampok. Ia menceritakan tentang kisah taubat dirinya: Suatu hari ketika tengah menghadang orang yang lewat, ia duduk di bawah pohon kurma atau di bawah pagar kurma. Lalu melihat burung berpindah dari pohon kurma dengan teratur. Ia merasa heran lalu memanjat ke salah satu pohon kurma itu. Ia melihat ular yang sudah buta dan burung tersebut melemparkan makanan untuknya. Ia merasa heran dengan apa yang dilihat, lalu ia pun taubat dari dosanya. Kemudian ia menuntut ilmu dan banyak mendengar dari para ulama. Banyak juga dari mereka yang mendengar pelajarannya.
Lihatlah mereka! Mereka dahulunya adalah seorang penyanyi, beragama Nashrani, dan perampok. Walau demikian, mereka kini menjadi pemuka ulama. Sosok mereka diacungi jempol dan amal mereka disebut-sebut setelah mereka meninggal dunia. Lalu, bagaimana dengan kita?
***
Oleh karena itu, mulai sekarang, marilah kita manfaatkan waktu dan kesempatan yang kita miliki semaksiamal mungkin. Di manapun kita berada dan dalam aktivitas apapun. Jangan pernah berhenti dari belajar ilmu-ilmu agama.
Ketika kita sedang di atas bis kota, kita bisa mendengarkan ceramah lewat MP3. Atau bisa juga mengulang hafalan Al-Qur’an yang telah kita hafal dengan lancar. Ketika sedang makan, bisa sambil nonton VCD ceramah atau mendengarkan ceramah lewat tape. Ketika kita sedang berjalan menuju sekolah atau masjid, bisa digunakan untuk membaca beberapa ayat Al-Qur’an yang baru saja kita hafal. Ketika kita di halte sedang menunggu bus, bisa kita manfatkan untuk membaca buku ringan, seperti buku tetang akhlak dan sirah.
Pokoknya, disetiap waktu dan kesempatan, gunakanlah untuk belajar. Jangan sampai waktu kita terbuang percuma. Belajarlah! Belajarlah!
*********************************
SAMPAI KE LIANG LAHAT
*********************************
Seorang pria melihat Imam Ahmad bin Hambal sedang membawa tempat tinta, maka berkata pria itu kepada Imam Ahmad,”Wahai Abu Abdillah, engkau adalah seorang Imam besar. Akan tetapi engkau masih saja membawa tempat tinta”.
Maka, Imam Ahmad berkata,”Aku akan tetap membawa tempat tempat tinta ini hingga aku menuju liang lahat.”
(Dikutip dari buku saya yang berjudul “YUK, NGAJI, YUK!”)
DIarsipkan di bawah: 1