|
I |
slam adalah agama yang mudah. Tidak ada hal apapun yang sulit dalam Islam. Alloh tidak akan membebankan sesuatu yang manusia tidak mampu melaksanakannya. Sebab, Alloh menginginkan kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan atas hamba-Nya. Sebagaimana firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala:
”…Alloh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….”(QS. Al-Baqarah [2]:185)
”…Alloh tidak ingin menyulitkanmu…”(QS. Al-Maa-idah:6)
”…Dan Dia (Alloh) tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama…”(QS. Al-Hajj:78)
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
”Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Alloh) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” (HR. Al-Bukhari [39])
Kemudahan dalam Islam dapat kita rasakan sendiri dalam menjalankan syariatnya. Dalam pelaksanaan syariat Islam –baik dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlak- tugas kita hanyalah ittiba’ (mengikuti) Rosululloh. Itu saja.
Setiap yang beliau kabarkan, kita terima (imani); setiap yang beliau perintahkan, kita jalankan semampu kita; setiap yang beliau larang, kita tinggalkan dan jauhi; dan kita beribadah cukup dengan yang beliau syariatkan saja, tidak perlu kita membuat syariat baru yang tidak dicontohkan oleh beliau. Inilah konsekuensi dari syahadat Rosul (persaksian bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah Rosululloh)[1].
Kemudahan Islam dalam Perkara Aqidah
Dalam perkara aqidah, kewajiban kita hanyalah ”membenarkan, mengimani, dan menetapkan apa yang beliau sampaikan. Misalnya, tentang sifat Alloh, kewajiban kita hanyalah membenarkan nash-nash yang datang di dalam menetapkan sifat-sifat Alloh, menetapkannya, dan meyakini maknanya yang hakiki disertai dengan menyerahkan ilmu tentang hakikat bentuk atau cara kepada Alloh. Juga, meyakini kesucian Alloh Subhanahu wa Ta’ala dari penyerupaan dan persamaan dengan sifat makhluk-Nya.”[2]
Kita ambil contoh, Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa Alloh punya tangan
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:” Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.”. (QS. Shad [38]:75)
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,”Sesungguhnya Alloh Ta’ala membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari; dan Alloh membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, hingga matahari terbit dari barat.”(HR. Muslim [2760])
Maka, kewajiban kita hanyalah membenarkan, mengimani, dan menetapkan bahwa Allah punya tangan sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya, berbeda dengan tangan makhluk-Nya. Kemudian, kita tidak perlu membayangkan bagaimana sebenarnya hakekat bentuk tangan Allah, karena jika Allah maupun Rasul-Nya tidak memberitahu kepada kita bagaimana hakekat bentuk Tangan Dia (Allah), mengapa kita bersusah payah memaksa diri untuk nereka-reka bagaimana hakekat bentuk tangan Allah? Cukup kita katakan bahwa Allah memiliki Tangan yang sesuai dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya[3].
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
” Dan ilmu mereka tak dapat meliputi ilmu-Nya” (QS. Thaha: 110)
Dan, Alloh Subhanahu wa Ta’alaberfirman:
”Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”(QS. Al-Baqarah:286)
Kemudahan Islam dalam Perkara Ibadah
Demikian juga halnya dalam masalah ibadah. Kewajiban kita hanyalah mengikuti contoh (Sunnah) Rosululloh. Jangan kita mempersulit diri dengan membuat cara-cara baru dalam beribadah (mendekatkan diri kepada Alloh). Sebab konsekuensinya besar:
- Sama saja kita mengatakan bahwa syari’at Islam belum sempurna. Padahal Alloh berfirman:
”Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu…”(QS. Al-Maidah: 3)
- Sama saja kita mengatakan bahwa Rosululloh khianat, karena ada syari’at yang belum beliau sampaikan kepada ummat. Padahal Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:”Tidak tinggal sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.”(Hadits shahih, riwayat Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir [2/166 no. 1647])
Maka, cukuplah bagi kita dengan apa yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rosululloh. Kemudian kita mengikuti jejak generasi terbaik (Sahabat) dalam mengamalkan syari’at Islam yang disampaikan Rosululloh kepada mereka.
Lagi pula, untuk apa kita bikin syari’at baru.Lha wong syari’at yang jelas-jelas ada contohnya dari Rosululloh saja belum sanggup kita laksanakan seluruhnya.
Banyak sekali syari’at Islam yang telah jelas dicontohkan oleh Rosululloh, seperti: sholat sunnah rawatib,sholat lima waktu berjama’ah, sholat tahajjud, sholat dhuha, sholat sunnah setelah wudhu, shalat gerhana, membaca dzikir pagi dan petang, membaca Al-Quran, menghafal Qur’an, membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, mengkaji hadits, puasa sunnah senin-kamis, puasa tiga hari di pertengahan bulan (ayyamul bidh), bersedekah, dan masih sangat banyak syari’at Islam yang jelas-jelas ada contohnya dari Rosululloh yang belum kita laksanakan. lalu, untuk apa kita capek-capek melaksanakan yang belum jelas ada contohnya!?
Jadi, agama Islam ini mudah sekali, bukan?! Kuncinya hanya satu: ittiba’(mengikuti Rasulullah).
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu mengatakan:
”Ikuti saja Rosululloh (ittiba’) dan janganlah kalian membuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi dengan Islam ini.”(Diriwayatkan oleh Ad-Darimi (I/69)) [4]
Wallahu a’lam
(Dikutip dari buku saya yang berjudul “TERNYATA ALLAH BUKAN DI MANA-MANA”)
[1] Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin rahimahullah bahwa konsekuensi dari syahadat Rosulullah adalah: membenarkan apa-apa yang beliau beritakan, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, dan tidak beribadah melainkan dengan yang telah disyariatkan oleh beliau. (Lihat Syarhu Tsalatsatil Ushul hal. 75)
[2] Syarah ‘Aqidah Ash-Shahihah, hal. 45
[3] Berdasarkan kaidah yang telah kita pelajari; kita tidak boleh melakukan tahrif, misalnya dengan mengatakan,” Tangan Allah maksudnya kekuatan (quwwah)”; tidak juga ta’thil, dengan berkata,” Alloh tidak punya tangan”. Tidak boleh kita melakukan takyif,”Bagaimana bentuk tangan Allah?” atau berkata “Tangan Allah panjangnya sekian meter”; tidak juga tasybih,”Tangan Allah seperti tangan manusia”.
[4] Lihat Syarah ‘Aqidah hal. 109
DIarsipkan di bawah: 1