KRITIS DALAM BERAGAMA (SEBUAH RENUNGAN UNTUK PENCARI KEBENARAN)

“Siapa saja perkataannya bisa diambil dan bisa ditolak, kecuali orang yang berada dalam kubur ini.” (sambil menunjuk ke kubur Rasulullah).

B

etapa indahnya perkataan Imam Malik rahimahullah di atas. Pantas kiranya dicatat dengan tinta emas. Beliau memberi nasihat yang sangat berharga bagi kaum muslimin yaitu agar mereka bersikap kritis dalam beragama, serta menjauhi sikap taklid dan ta’ashub (fanatik).

Sebuah realita

Merupakan sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan lagi, bahwa kaum muslimin saat ini terpecah menjadi kelompok-kelompok yang banyak dan berserakan di atas muka bumi. Masing-masing kelompok memilki nama dan ciri khas tersendiri. Mereka pun memiliki pendapat yang berbeda, bahkan terkadang bertolak belakang. Sayangnya pendapat yang bertolak belakang ini terjadi pada masalah aqidah dan manhaj dakwah, padahal dalam masalah akidah dan manhaj dakwah tidak boleh ada perbedaan di dalamnya. Berbeda halnya dengan masalah fiqih.

Misal, kelompok yang satu mengatakan bahwa aqidah tidak bisa dibangun dengan menggunakan hadits ahad. Namun, kelompok yang lain membolehkan, bahkan mewajibkan. Kemudian dalam manhaj dakwah, kelompok yang satu menghalalkan demokrasi, sedangkan kelompok yang lain justru mengharamkan.

Itulah fenomena yang ada di tengah-tengah masyarakat saat ini. Lalu bagaimana cara kita menyikapinya?

Dibutuhkan sikap kritis

Kenyataan yang ada ini tentu saja membuat bingung para generasi Islam yang baru tumbuh dan ingin mengkaji Islam lebih mendalam. Sehingga sebagian dari mereka, tatkala melihat begitu banyaknya kelompok / jama’ah, mereka mundur sebelum melangkah, dan lebih memilih netral (tidak memilih salah satunya), sehingga dalam berislam, mereka menjalankan sebatas ibadah ritual saja seperti shalat, haji, dan ibadah ritual lainnya sebagaimana yang dikerjakan umumnya masyarakat.

Padahal dalam masalah ini, hanya ada 2 pilihan: benar atau salah. Sebgaimana Allah berfirman , “Dan tidaklah setelah kebenaran itu melainkan kesesatan.” Juga Rasulullah telah mengingatkan dalam haditsnya, bahwa dalam Islam hanya ada 2 golongan : golongan yang selamat dan golongan yang celaka. Golongan yang selamat tempat kembalinya adalah surga, sedangkan golongan yang celaka berada di neraka. Lalu dimanakah posisi orang yang netral ini?

Namun ada juga sebagian pemuda yang memiliki semangat tinggi dalam mencari kebenaran. Lalu mereka pun berusaha sekuat tenaga untuk mencari jawaban yang ilmiah yang bisa menentramkan hatinya. Mulailah dia bertanya kepada oorang-orang yang dianggapnya bias menjawab misteri yang selama ini bernaung di benaknya, “Kelompok manakah yang benar?” ‘Islam manakah yang mesti saya ikuti?’

Sayangnya, terkadang perjalanan untuk mencari kebenaran tak semudah dibayangkan sebab di hadapannya didapati pendapat yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap kritis dalam menilai setiap pendapat yang dapat diterima.

Bagaimana bersikap kritis ?

Seseorang yang punya kritis tentu tidak begitu saja “menelan mentah-mnetah” setiap perkataan yang sampai kepadanya. Perlu diadakan cek dan ricek (tabayyun) terlebih dahulu. Lalu, apa parameternya?

Allah berfirman : “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikan kepada Allah (Al-Qur’an dan Rasul-nya (as-sunnah).” (An-Nisa : 59)

Maka untuk mengetahui kebenaran suatu pendapat caranya adalah dengan mencocokan pendapat itu dengan Al-Qur’an dan as-sunnah Rasul-Nya. Karena keduanya adalah wahyu yang berasal dari Allah. Dan Allah sendiri adalah sumber kebenaran, sebagaimana firmannya : “Kebenaran itu berasal dari Rabbmu.”

Rasulullah juga pernah bersabda “Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian selama kalian berpegang teguh pada keduanya , kalian tidak akan tersesat. Dua perkara itu adalah Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya” (HR. Malik).

Namun, untuk mendapatkan kebenaran dari keduanya butuh pemahaman yang benar, sebab sekarang ini banyak kelompok bahkan hampir semuanya mengaku bahwa mereka berpedoman pada Al-Qur’an dan as-sunnah. Tapi pada kenyataannya, mereka menyimpang dari jalan yang lurus.

Maka untuk mendapatkan kebenaran kita harus memahami keduanya dengan pemahaman yang benar, yaitu sebagaimana yang dipahami oleh sahabat. Hal ini merupakan perintah langsung dari Rasulullah, tatkala Beliau mengabarkan akan banyaknya perselisihan kelak di kemudian hari, kemudian Beliau memberi jalan keluarnya seraya bersabda, “Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang terbimbing dan lurus.”

Perkataan sunnahku masuk di dalamnya Al-Qur’an dan hadits-hadits Beliau yang shahih. Dan perkataan “sunnah khulafaurrasyidin” adalah pengamalan mereka sahabat akan sunnah Rasulullah tersebut.

Dan tidak bisa dipungkiri, bahwa para shabatlah yang paling paham dengan Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah. Mereka adalah generasi yang terbaik yang mendapat tazkiah (rekomendasi) langsung dari Allah dan Rasul-Nya. Maka sudah bisa dipastikan, mereka berjalan di atas kebenaran. Maka wajib bagi kita untuk mengikuti mereka, baik dalam hal aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, maupun dalam manhaj dakwah mereka.

Jauhi taklid buta dan ta’ashub!

Selain harus kritis, seorang pencari kebenaran harus meninggalkan sikap taklid buta dan ta’ashub. Entah kepada guru (syaikh), kelompok, organisasi, atau mazhab tertentu.

Hal ini penting sebab saat ini ada sebagian orang yang karena sangat taklid dan ta’ashubnya kepada guru, kelompok, atau mazhabnya sehingga dia mencoba sekuat tenaga menghalangi orang lain untuk mengetahui dalil yang menyalahi atau menolak untuk mendengarkan pendapat orang lain atau enggan untuk mempertimbangkan dalam bentuk apapun.

Namun seorang pencari kebenaran –dalam pencariannya- dia harus menumbuhkan dan membiasakan diri untuk munaqosyah (diskusi) bebas, dan mendengarkan dalil yang bertentangan dengan lapang dada serta menolak secara halus tanpa menjatuhkan lawan bicara dengan berharap semoga dia diberi petunjuk.

Para ulama mengajarkan sikap kritis

Sikap kritis juga merupakan nasihat para ulama, baik ulama-ulama terdahulu hingga sekarang. Coba kita perhatikan ulama-ulama yang masyhur (terkenal), seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad rahimahullah. Tidak ada satupun dari mereka yang mengajarkan sikap taklid dan ta’ashub pada suatu individu, pendapat, atau kelompok tertentu. Berikut ini beberapa perkataan mereka:

1. Imam Abu Hanifah rahimahullah

“Tidak halal seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.”

Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah, tinggalkan pendapatku.”

2. Imam Malik bin Anas rahimahullah

“Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur’an dan as-sunnah, dan bila tidak sesuai maka tinggalkanlah.”

3. Imam Syafi’i rahimahullah

“Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan hadits Rasulullah, peganglah hadits Rasulullah dan tinggalkan pendapatku.”

“Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yang ternyata menyalahi hadits Nabi yang shahih, ketahuilah, hal itu berarti pendapatku tidak berguna.”

4. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah

Janganlah engkau taklid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i, dan Tsauri. Akan tetapi,ambillah dari sumber mereka mengambil.”

Perhatikan wahai saudaraku yang cerdik! Imam-imam ini sudah tidak diragukan keilmuannya. Namun, mereka meminta untuk mengkritisi pendapat yang mereka keluarkan, lalu bagaimana halnya dengan pendapat orang-orang zaman sekarang!

Demikian uraian singkat tentang pentingnya sikap kritis dalam beragama. Mudah-mudahan bisa bermanfaat dan semoga kita dijadikan Allah termasuk orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka “Yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang baik diantaranya.” (Az-Zumar-18)

Sebagai penutup, ada baiknya kita renungkan perkataan Ali bin Abi Thalib berikut : “Sesungguhnya kebenaran tidak dapat dilihat dari orang per orang tapi orang per oranglah yang harus dilihat dengan kebenaran. Maka kenalilah kebenran, niscaya akan engkau kenali orang-orang yang berada di atasnya.”

Ya Allah tunjukkan kepada kami bahwa yang benar adalah benar dan berilah kekuatan kepada kami untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang salah adalah salah dan berilah kekuatan kepada kami untuk menjauhinya. Amin.(Shohibul Qolam)

Tinggalkan Balasan