MEMAHAMI SUNNAH

Sunnah ibarat perahu nabi Nuh.

Barangsiapa naik ke dalamnya, maka dia akan selamat. Dan, barangsiapa yang enggan, maka dia akan tenggelam (binasa).

(Imam Malik)

S

aya dahulu sempat bingung. Masak iya melaksanakan sunnah hukumnya wajib. Kalau begitu, shalat sunnah hukumnya wajib, dan kita berdosa jika meninggalkannya. Demikian kira-kira yang ada dalam benak saya waktu itu.

Kebingungan saya ini berawal dari ucapan seorang kakak kelas (alumni) sewaktu di SMA dulu. Ketika menyampaikan ceramah, kakak kelas saya itu berkata bahwa melaksanakan sunnah hukumnya wajib. Mendengar itu, jelas saya tidak setuju. Sebab, setahu saya, melaksanakan sunnah itu tidak wajib. Kalau dilaksanakan berpahala, kalau ditinggalkan tidak berdosa. Sayangnya, waktu itu saya hanya bisa diam menerima. Lagi pula, sewaktu SMA dulu, perhatian saya terhadap agama biasa-biasa saja. Cara beragama saya lebih cenderung kepada taklid (ikut-ikutan) dan memilih yang enaknya saja berdasarkan hawa nafsu, bukan berdasarkan ilmu.

Seiring berjalannya waktu, ternyata saya baru mengerti. Ternyata, “sunnah” yang dimaksud oleh senior saya itu berbeda dengan “sunnah” yang saya pahami selama ini. Sunnah yang saya pahami selama ini adalah pengertian sunnah ditinjau dari sudut pandang ilmu fikih. Sedangkan sunnah yang dimaksud senior saya itu adalah sunnah dalam arti umum, yang pengertiannya sama dengan Islam itu sendiri.

DEFINISI SUNNAH

Dalam Kitab Ta’liq Mukhtashar ‘ala Kitab Lum’atil I’tiqad dijelaskan bahwa definisi sunnah menurut bahasa adalah at-thariiq (jalan).

Adapun penertian sunnah secara istilah adalah:

مَا كَان عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ أَصْحَابُهُ مِنْ عَقِيْدَةٍ أَوْ عَمَلٍ

Apa-apa yang Rasulullah dan para Sahabatnya berada di atasnya, baik perupa aqidah (keyakinan) maupun amal perbuatan.

Atau dengan kata lain, bisa juga kita katakan bahwa sunnah adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para Sahabatnya pada waktu itu.

SUNNAH = ISLAM

Dari definisi di atas bisa kita pahami bahwa pengertian sunnah itu identik dengan Islam. Sebab, jalan yang Rasulullah dan para Sahabatnya tempuh tidak lain dan tidak bukan adalah Islam. Segala sesuatu yang di sampaikan oleh Rasulullah kepada para Sahabatnya, kemudian diamalkan oleh mereka, maka itulah Islam. Jadi, sunnah adalah Islam, dan Islam adalah sunnah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Barbahari rahimahullah,

اِعْلَمُوْا أَنَّ اْلإِسْلاَمَ هُوَ السُّنَّةُ، وَ السُّنَّةُ هِيَ اْلإِسْلاَمُ، وَ لاَ يَقُوْمُ أَحَدُهُمَا إِلاَّ بِاْلاَخَرِ

” Ketahuilah! Bahwasanya Islam adalah sunnah, dan sunnah adalah Islam, keduanya tidak bisa dipisahkan”.

Sekarang, kalau ada orang yang berkata, “ Kita harus berpakaian sesuai sunnah”, maka maksudnya adalah kita harus berpakaian sesuai dengan aturan Islam, yaitu yang dicontohkan oleh Rasulullah dan diikuti oleh para Sahabatnya. Nah, dari aturan-aturan yang ada dalam Islam itu, oleh ulama ahli fikih, hukumnya kemudian dipilah-pilah lagi menjadi lima hukum: Wajib (misalnya, memakai pakaian yang menutup aurat), sunnah (misalnya, berdoa sebelum berpakaian), mubah (misalnya, memakai kemeja kotak-kotak), makruh (misalnya, memakai pakaian kotor dan bau apek), dan haram (misalnya, memakai pakaian lawan jenis).

HUKUM MELAKSANAKAN SUNNAH

Hukum melaksanakan sunnah sama saja dengan hukum melaksanakan syari’at Islam itu sendiri, yaitu wajib bagi setiap Muslim. Jika ada orang Islam yang tidak mau melaksanakan sunnah, maka perlu dipertanyakan keislamannya. Dan, jika ada orang yang membenci sunnah, maka sama saja dia membenci Islam. Rasulullah bersabda:

مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

” Barangsiapa yang membenci sunnahku maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalil-dalil tentang wajibnya mengikuti sunnah, baik sunnah Rasulullah maupun sunnah Sahabat, jumlahnya banyak sekali, diantaranya:

“Dan ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul…”. (QS. Al-Maidah: 92)

“Dan jika engkau semua mengikuti (patuh) pada Rasul, niscaya engkau akan mendapat petunjuk.” (QS. An-Nur: 54)

“Dan barangsiapa taat kepada Rasul, maka sungguh (berarti) telah mentaati Allah”. (QS. An-Nisa: 80)

“…barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah masukkan surga…” (QS. An-Nisa: 13)

“Dan apa saja yang Rasul bawa, maka ambillah. Dan apa saja yang Rasul larang, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah [9]:100)

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. 48:18). Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata,”Kami (para Sahabat), saat itu, berjumlah 1400 orang.” (Shahih Bukhari)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Wajib bagi kalian mengikuti sunnahku (sunnah Rosul) dan sunnah Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyin (sunnah Shahabat), peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham kalian…”(HR. Ibnu Majah, Ahmad dan Abu Dawud; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Hadits Shahihah [6/238])

BAHTERA KESELAMATAN

Tentang sunnah ini, Imam Malik (gurunya Imam Syafi’i) memberikan sebuah permisalan yang sangat bagus sekali. Dia berkata:

السُّنَّةُ سَفِيْنَةُ نُوْحٍ فَمَنْ رَكِبَهَا نَجَى وَ مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

“Sunnah ibarat perahu nabi Nuh. Barangsiapa naik ke dalamnya maka dia akan selamat. Dan, barangsiapa yang berpaling, maka dia akan tenggelam (binasa)”.

Wallahu a’lam bishshawab. Semoga penjelasan saya ini bisa dipahami.

(Dikutip dari buku saya yang berjudul “KENAPA MEREKA MEMAKAI CELANA NGATUNG ?”)

Satu Tanggapan

  1. Subhanallah…
    Semoga kita semua, termasuk orang2 yang suka menjalankan sunah2 Rasulullah dan sahabat2nya !
    Amin…

Tinggalkan Balasan