BAB I: KASIH SAYANG ALLAH

“Sesungguhnya Allah Maha Pengampun

lagi Maha Penyayang.”

(QS. Al-Muzammil: 20)

˜ooo™

Dalam mengarungi bahtera kehidupan, terkadang kita sering lupa dan lalai. Kondisi keimanan kita sering labil. Terkadang naik dan terkadang turun.

Setiap harinya, baik disengaja maupun tidak, ada saja aturan-aturan Allah yang kita langgar. Dari sejak bangun tidur hingga kita tidur lagi. Misalnya, tanpa bisa dicegah, mata ini sering jelalatan melihat hal-hal yang nggak bener. Mulut sering terpeleset ngomongin orang (ghibah). Dan masih banyak maksiat lainnya yang kita perbuat. Yang kecil maupun yang besar. Seolah, setiap harinya kita tidak pernah absen dari berbuat maksiat.

Namun, alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah, karena Allah sangat sayang kepada hamba-Nya. Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada kita ialah Allah menjadikan amalan-amalan dalam setiap hari, yang jika amalan itu kita lakukan “dengan benar”, bisa menghapus dosa yang telah kita perbuat.

Sebagai contoh, dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa wudhu lalu membaguskan wudhunya, maka kesalahan-kesalahannya akan keluar dari tubuhnya hingga keluar dari bawah kukunya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian berangkat menuju salah satu masjid Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban kepada Allah, maka langkah-langkahnya, yang satu menghapus dosa dan yang lain mengangkat derajat.” (HR. Muslim).

Kemudian juga, dalam mengarungi hidup, terkadang kita terlalu disibukkan oleh urusan dunia. Entah bekerja di kantor, berdagang, mengurus anak, dll. Sehingga waktu kita untuk melaksanakan ibadah jadi berkurang. Porsi untuk ibadah menjadi lebih sedikit dibandingkan waktu untuk mengerjakan aktivitas keduniaan. Saking sibuknya, kita hanya sempat melaksanakan amalan yang wajib. Sedangkan amalan sunnah terbengkalai. Kalaupun dikerjakan, itupun hanya sekali-kali saja. Akhirnya, kitapun terluput dari mendapatkan pahala amalan-amalan sunah itu.

Namun, lagi-lagi Allah menunjukkan kasih sayang-Nya kepada kita. Allah menjadikan waktu-waktu tertentu (khusus), di mana di waktu itu, jika seorang melakukan sebuah amalan, maka akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah. Misalnya saja, Allah menjadikan satu malam di bulan Ramadhan, yang ibadah di malam itu nilainya sama dengan ibadah selama seribu bulan. Malam itu kita kenal dengan malam lailatul qodar.

Barangkali ada yang berkomentar: “Tapi khan, malam lailatur qodar adanya cuma sekali dalam setahun. Jadi terlalu lama untuk menunggunya. Ada tidak yang lebih lebih cepat dari itu?

Oo tentu saja ada. Apa sih yang tidak ada dalam Islam? Lha wong Islam ini lengkap, kok!

Kalau kita mau, dalam setiap minggu ada satu hari istimewa yang di hari itu, jika kita mengamalkan suatu amalan, maka akan dihitung puasa dan shalat sunnah selama setahun. Juga, sedekah pada hari itu lebih agung kedudukannya dari hari-hari yang lain. Dan, masih ada seabrek keutamaan dan keistimewaan lainnya. Hari istimewa itu ialah hari Jum’at.

Namun perlu diingat. Untuk mendapatkan keutamaan dan keistimewaan itu, tidak bisa sembarangan. Ibadah yang kita lakukan harus memenuhi dua syarat: (1) ikhlas karena Allah dan (2) sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah. Tanpa dua syarat ini, ibadah yang kita lakukan akan sia-sia. Tiada pahala yang akan kita peroleh.

Sebenarnya, apa sajakah keistimewaan yang ada di hari Jum’at? Bagaimana cara memperolehnya? Benarkah Jum’atan bisa membuat orang menjadi kaya dan panjang umur? Mari kita simak bersama-sama.

Tinggalkan Balasan