SUATU SIANG DI HARI JUM’AT

(SEBUAH PENGANTAR)

Jam di dinding Masjid menunjukkan pukul 11 siang. Kurang-lebih satu jam lagi masuk waktu Jum’at. Namun, ruangan masjid masih terlihat kosong melompong. Belum ada jama’ah yang hadir. Cuma terlihat beberapa orang marbot yang sedang sibuk menggelar karpet dan menyiapkan sound system untuk keperluan khatib berceramah.

Di luar masjid orang-orang masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Para pedagang masih berteriak-teriak menjajakan barang dagangannya, supir metro mini masih kebut-kebutan berebut penumpang, pekerja kantor masih asyik di depan komputernya, dan para pelajar masih khusyuk mendengarkan ceramah pak guru di depan kelas.

Tak jauh beda dengan pemandangan di dalam rumah. Ada yang masih selonjoran dengan santainya di depan televisi. Ada yang masih meringkuk di atas kasurnya yang empuk, karena habis begadang semalaman. Ada yang masih asyik bersenda gurau bersama anggota keluarga yang lain.

Jarum jam di dinding masjid sedikit demi sedikit bergeser. Tak terasa tiga puluh menit telah berlalu dari pukul 11. Sekarang pukul 11. 30

Terlihat satu-dua orang mulai memasuki ruangan masjid. Ada yang memakai baju koko dan kain sarung, lengkap dengan peci di kepala. Ada yang memaki gamis putih dengan sorban tergantung di pundak. Ada yang memakai kemeja lengan panjang dan celana panjang bahan (non jeans). Ada juga yang hanya mengenakan kaos oblong full gambar nggak karuan plus celana jeans ketat dan kucel.

Ada jama’ah yang begitu masuk langsung mengambil shaf paling depan dan shalat dua rakaat, lalu khusyuk membaca Al-Qur’an. Ada juga yang begitu masuk langsung duduk di shaf belakang kemudian duduk bersandar sambil tangannya asyik memainkan HP.

Sebagian jama’ah lagi ada yang masih duduk-duduk di teras masjid sambil ngobrol dengan kawannya. Ada yang sedang merem-melek menghabiskan batang rokoknya yang tinggal seperempat. Ada yang sedang santai menyantap mie ayam yang baru saja di pesannya dari pedagang yang mangkal di depan pagar masjid. Ada juga yang sedang berkerumun di sekitar penjual buku yang menggelar dagangannya di halaman masjid.

Jarum jam kembali berputar. 10 menit lagi adzan akan segera dikumandangkan. Petugas MC sudah naik ke mimbar memberikan beberapa informasi terkait pelaksanaan shalat Jum’at. Tak lupa sang MC mengingatkan jama’ah untuk mengisi shaf terdepan terlebih dahulu. Terlihat jama’ah yang hadir belum ada setengahnya.

Orang-orang di rumah ada yang baru mau akan mandi. Para pedagang di pasar baru saja akan mengemasi barang dagangannya. Namun ada juga yang masih sibuk bertransaksi. Para supir angkutan umum masih terlihat berseliweran. Hanya ada beberapa yang memarkir mobilnya di pangkalan, kemudian beranjak menuju masjid terdekat dengan keringat yang bercucuran.

Adzan pun kini berkumandang. Orang-orang bergegas memasuki masjid. Tampak beberapa orang melangkahi pundak jama’ah yang ada di depannya untuk mencari tempat kosong. Ada juga yang duduk-duduk di tangga masjid dengan posisi membelakangi kiblat sambil menunggu khatib selesai khutbah.

Namun, di luar sana, masih ada saja orang Islam yang enggan untuk beranjak dari tempat duduknya. Mereka tidak peduli dengan panggilan adzan yang bersahut-sahutan dari pengeras suara yang bertengger di menara masjid: Hayya ‘alas Sholaah…! Hayya ‘alal falah…!

***

Pembaca yang dirahmati Allah.

Ilustrasi di atas hanyalah sebuah gambaran kecil dari realita sebenarnya yang ada di tengah-tengah kita. Betapa banyak, kalau kita perhatikan, kaum muslimin yang memandang hari Jum’at tak ubahnya seperti hari-hari yang lain, tiada beda. Paling-paling yang mereka tahu, bahwa di hari Jum’at ada pelaksanaan shalat Jum’at. Itu saja.

Padahal, kalau mau dibandingkan dengan hari-hari yang lain, hari Jum’at memiliki banyak sekali keistimewaan. Sehingga, wajar saja jika Rasulullah mengkhususkan hari Jum’at untuk fokus melakukan berbagai macam ibadah. Sebagaimana perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad,” Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengagungkan, mengistimewakan, serta memuliakan hari Jum’at dibanding hari lainnya dengan berbagai macam ibadah”. Maka, sangat merugilah orang-orang yang melewati hari Jum’at, namun tidak mendapatkan keistimewaan yang ada di dalamnya.

Oleh karena itu, melalui risalah sederhana ini, saya ingin memotivasi diri saya sendiri (khususnya) dan kaum Muslimin (pada umumnya) untuk memperbanyak ibadah di hari Jum’at. Sekaligus, dalam buku ini, saya akan berikan sebuah informasi berharga bahwa hari Jum’at bisa dijadikan moment untuk memperkaya diri sekaligus ”memperpanjang” umur.

Semoga hadirnya buku ini bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik untuk semua pihak. Amien.

Bogor, Maret 2008

Abdul Jabbar

Tinggalkan Balasan