TATA CARA MANDI JUNUB
SESUAI CONTOH RASULULLAH
Berikut ini tata cara mandi junub (wajib) yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘’alaihi wa Sallam.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:”Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan seseorang akan dibalas sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)
Jadi, jika untuk shalat Jum’at, mandi yang dilaksanakan diniatkan untuk mandi Jum’at.
2. Membaca basmalah (dalam hati) terlebih dahulu sebelum mandi.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak sah shalat bagi seseorang yang tidak berwudhu dan tidak sempurna wudhu bagi seseorang yang tidak membaca basmalah.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil, hadits no. 81)
- Mencuci kedua telapak tangan tiga kali
Hal ini berdasarkan hadits berikut:
Dari Aisyah, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam apabila junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangan beliau kemudian berwudhu sebagaimana wudhu hendak mengerjakan shalat. Selanjutnya, beliau memasukkan jari-jari tangannya ke dalam air, lalu menyelai-nyelai pangkal rambut kepala. Setelah itu beliau menyiram kepalanya dengan air sepenuh kedua telapak tangan 3 kali, lalu meratakannya ke seluruh tubuh.” (HR. Al-Bukhari)
Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Saya pernah menyiapkan air untuk mandi junub Rasulullah. Beliau kemudian mencuci kedua telapak tangannya 2 kali atau 3 kali, kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam wadah air (untuk menciduk air), lalu mencuci kemaluan beliau dengan tangan kiri. Setelah itu beliau meletakkan tangan kirinya di tanah, lalu menggosok-gosokkannya sampai benar-benar bersih. Selanjutnya beliau berwudhu sebagaimana wudhu hendak mengerjakan shalat, kemudian beliau menyiram kepalanya dengan air sepenuh kedua telapak tangan 3 kali, kemudian beliau meratakannya ke seluruh tubuh. Setelah itu beliau bergeser dari tempatnya semula, lalu membasuh kedua kakinya. Selanjutnya, saya memberikan handuk kepada beliau, namun beliau menolaknya.” (HR. Muslim)
5. Membersihkan tangan kiri[2]
Seseorang yang mandi wajib hendaklah membersihkan tangan kirinya (setelah digunakan untuk membersihkan kemaluannya) dengan salah satu cara berikut:
a). Membersihkannya dengan debu atau tanah yang suci
b). Menggosokkannya ke dinding atau ke tembok
c). Membasuhnya dengan air dan sabun
6. Berwudhu secara sempurna[3]
Seseorang yang mandi wajib hendaklah berwudhu secara sempurna terlebih dahulu sebagaimana wudhu untuk mengerjakan shalat atau boleh juga berwudhu dengan mengakhirkan membasuh kaki di akhir rangkaian mandi.
Dalam menyiram kepala, hendaklah dimulai dari kepala bagian kanan, kemudian yang kiri, dan terakhir kepala bagian tengah. Hal ini berdasarkan hadits berikut:
“Dari ‘Aisyah ia berkata: Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam apabila hendak mandi junub, beliau meminta diambilkan air dalam wadah yang besarnya kurang lebih sama dengan hilab ( wadah untuk menampung perahan susu unta). Beliau lalu menciduk air sepenuh kedua telapak tangan dan menyiram kepalanya mulai sebelah kanan, lalu sebelah kiri, dan terakhir sebelah tengah.” (HR. Bukhari)
Ketika mandi junub, bagi wanita dibolehkan untuk tidak melepas ikatan rambutnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut:
Dari Ummu Salamah, ia berkata:”Aku pernah bertanya” Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang wanita yang suka menggelung/mengepang rambut. Haruskan aku melepasnya saat mandi junub?” Beliau menjawab:”Tidak! Cukup bagimu menyiram kepalamu 3 kali dan selanjutnya engkau ratakan air ke seluruh tubuh. Dengan demikian, engkau telah suci.” (HR. Muslim)
Adapun ketika mandi sehabis haidh lebih dianjurkan bagi wanita untuk melepas ikatan rambutnya. Hal ini berdasarkan hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika kedatangan haidh saat menunaikan ibadah haji:
“Tinggalkanlah (rangkaian tertentu ibadah) umrahmu, lepaskanlah ikatan rambutmu (saat mandi); dan sisirlah rambutmu.” (HR. Al-Bukhari)
8. Meratakan air ke seluruh tubuh[4]
Seseorang yang mandi wajib, diwajibkan meratakan air ke seluruh tubuh dan disunnahkan baginya memulai dari badan bagian kanan, baru kemudian bagian kiri.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa nabi suka mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, bersisir, bersuci, dan dalam semua urusan beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seseorang yang mandi wajib hendaknya juga memperhatikan ketiak dan semua lipatan tubuh serta selangkangannya agar dibersihkan dan menggosok bagian badan yang tidak mudah terjangkau air. Hal ini berdasarkan hadits berikut:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam apabila mandi junub, beliau memulainya dengan membasuh kedua telapak tangan, lalu membersihkan semua lipatan tubuhnya (termasuk kemaluannya). Setelah (semua bersih dan) kedua tangannya telah dibersihkan, kedua tangannya beliau gosokkan ke dinding. Selanjutnya beliau berwudhu, lalu menyiram kepalanya (dan meratakan air ke seluruh tubuh)” (HR. Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud [1/48])
9. Berpindah dari tempat semula, lalu membasuh kedua kaki[5]
Di akhir rangkaian mandi, sebelum membasuh kedua kaki, dianjurkan bagi seseorang yang mandi wajib untuk bergeser dari tempat semula. Utamanya, agar tidak mengeringkan badan dengan handuk atau lap yang lain.
Syaikh bin Baz rahimahullah berkata: “Membasuh kedua kaki di akhir rangkaian mandi, membasuh saat melakukan rangkaian wudhu sebelum mandi, atau tidak membasuhnya adalah sama saja (boleh)”.
Dianjurkan juga bagi seseorang yang mandi wajib agar tidak berlebihan atau boros dalam menggunakan air. (Diringkas dari buku Adab Buang Air dan Mandi karya Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani)
DIarsipkan di bawah: e-BOOK