Agama

Tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini ialah agar mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Secara jelas dan tegas Allah berfirman:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Tentunya, ibadah yang diinginkan Allah untuk dilakukan oleh seorang hamba ialah ibadah yang berkualitas. Yaitu ibadah yang memenui dua persyaratan: (1) dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah dan (2) sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘akaihi wa Sallam. Jika salah satu syarat hilang, sebanyak apapun ibadah yang dilakukan seorang hamba, maka ibadah itu akan sia-sia. Allah tidak akan menerima amal ibadahnya. Ibarat dua sisi mata uang. Jika salah satunya hilang, maka uang pun tidak akan laku lagi untuk dipergunakan.

Kemudian, ada satu hal yang nampaknya belum diketahui oleh kebanyakan kaum Muslimin sekarang ini. Bahwasannya suatu ibadah bisa mendatangkan rezeki yang melimpah bagi orang yang melaksanakannya. Hal ini sebagaimana yang diinformasikan oleh Rasulullah salam sebuah hadits, beliau bersabda,”Sesungguhnya Allah berfirman, ’Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu..” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Dalam hadits di atas, Nabi mengabarkan tentang janji Allah berupa dua jenis ganjaran bagi orang-orang yang ”beribadah sepenuhnya” kepada Allah. Yaitu, Allah pasti memenuhi hatinya dengan kekayaan (kelapangan) dan akan dipenuhi kebutuhannya. Lalu, apakah yang dimaksud ”ibadah sepenuhnya” itu?

Dalam bukunya yang berjudul Mafaatihur Rizki fii Dhau-il Kitab Was Sunnah, Dr. Fadhl Ilahi mengatakan bahwa ibadah yang dilakukan sepenuhnya karena Allah ialah seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan merendahkan diri di hadapan Allah, menghadirkan (dalam hati) betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasa bahwa dia sedang bermunajat kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Yakni beribadah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, ”Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Namun, bukan berarti ketika seseorang sudah beribadah dengan sepenuhnya kepada Allah kemudian dia meninggalkan usaha (ikhtiar). Sebab, untuk memperoleh rezeki, seorang tetap harus berusaha mencarinya. Tidak bisa hanya duduk santai sehari semalam di dalam masjid sambil menunggu rezeki turun dari langit. Hanya saja, jika seseorang telah beribadah sepenuhnya kepada Allah, kemudian dia iringi dengan usaha yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memberinya kemudahan dalam mendapatkan rezeki. Bahkan, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, Allah akan memberinya rezeki yang melimpah. Dan, ini adalah janji Allah. “…sesungguhnya janji Allah adalah benar..”(QS. Fathir [35]:5)

Tinggalkan Balasan